Urutan Batin

Setelah perkawinan kami memasuki tahun kelima, aku dan isteriku Thalha mengalami hubungan suami isteri yang makin hari makin hampa, kerana kesibukan mengurus dua anak kami yang masing-masing berumur 2 dan 3 tahun. Thalha malas sekali jika diajak berhubungan suami isteri, alasannya terlalu penat bekerja sebagai ibu rumah tangga dan mengurus anak. Aku yakin Thalha bukan jenis isteri yang suka selingkuh, selain taat beragama, norma-norma moral dan kesusilaan sangat dijaga benar oleh isteriku, ini kerana isteriku berasal dari keluarga baik-baik.

Aku berusaha mencari maklumat bagaimana memulihkan hubungan kami supaya normal kembali. Jika kupaksakan berhubungan, Thalha berteriak kesakitan, meskipun sudah dengan pemanasan (four play) yang lama. Thalha tidak terangsang sama sekali dan lubang kemaluannya tetap kering, dan jika dipaksakan masuk, dia akan menjerit kesakitan. Aku berusaha mencari alternatif untuk penyembuhan kedinginan isteriku ini. Sudah berbagai cara digunakan tapi belum berhasil.

Thalha berumur 22 tahun dan aku 31 tahun, pada awalnya perkawinan kami boleh dikatakan cukup bahagia, namun sekarang kerana Thalha mengalami kedinginan seks yang nampaknya kekal, membuatku bingung mencari penyelesaiannya.

Sebelum kulanjutkan, aku ingin menceritakan tentang Thalha, yang kukahwini 5 tahun yang lalu, untuk ukuran orang melayu dia termasuk wanita yang cukup tinggi dengan tinggi 170 cm dengan berat 49 kg. Kulitnya kuning langsat, rambut sebahu, memiliki leher yang jenjang.

Apa yang ku suka dari Thalha adalah kakinya yang panjang dan jinjang, serta bibirnya yang tebal dan mengghairahkan, buah dadanya tidak terlalu besar namun bentuknya indah mancung ke atas. Yang membuatku penasaran adalah puting teteknya yang besar, hampir sebesar ujung kelingking, itu yang membuatku senantiasa gemas dan ingin selalu menghisapnya.

Kembali ke masalah tadi. Setelah mendapat maklumat dari seorang rakan, dia mengatakan bahwa di daerah Baling ada seorang dukun orang asli yang dapat menyembuhkan segala penyakit termasuk penyakit dingin seks seperti isteriku ini. Nama aslinya orang kampung tak ingat, tapi semua orang memanggilnya Pak Ali. Sebenarnya isteriku ragu-ragu untuk berubat ke dukun itu, namun atas desakanku tidak ada salahnya dicuba.

Kami terus saja ke tempat yang diberitahu. Sambil menunggu, aku mengamati pengunjung sebelumnya, ternyata rawatan dukun tersebut adalah dengan cara mengurut menggunakan minyak (seperti minyak kelapa) yang dibuatnya sendiri. Setiap pesakit perempuan harus melucut seluruh bajunya, coli dan tinggal celana dalam, dan mengenakan sarung yang disediakan.
Aku sempat mengamati kamar kerjanya yang serupa dengan kamar tidur itu pada saat pintunya terbuka. Beberapa wanita sedang menanggalkan coli dan memakai sarung. Begitu Thalha tahu tentang itu, dia hampir saja membatalkan niatnya untuk berubat kerana risau harus buka pakaian, apalagi harus melondeh coli.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 8.30 malam, kemudian giliran kami dipanggil ke dalam. Aku pun disuruh masuk oleh pembantunya. Orang itu meperkenalkan namanya, kemudian menanyakan masalah penyakit isteriku, dia pun mengangguk-angguk mengerti dengan syarat seluruh rawatan harus diikuti dengan serius tanpa ragu-ragu. Kami pun mengiyakan, asal isteriku dapat sembuh.
Kemudian Pak Ali menyuruh Thalha menanggalkan pakaiannya, begitu Thalha membuka colinya, kulihat ekor mata Pak Ali agak terkejut melihat buah dada Thalha yang putih dan mancung ke atas, serta putting susunya yang cukup besar itu.

Setelah sarung dililitkan di tubuh Thalha yang hanya tinggal mengenakan celana dalam, kemudian Thalha disuruh tidur telentang di tilam yang sudah disediakan. Aku melihat Pak Ali mulai meminyaki rambut dan kepala Thalha dengan minyak, kemudian Thalha disuruh duduk, serta merta lilitan sarung yang dipakai Thalha terlepas. Kemudian dari arah belakang Pak Ali meminyaki belakang Thalha.
Posisi Pak Ali duduk menghadap belakang Thalha. Dari arah belakang kedua tangannya mulai meminyaki tetek Thalha yang kiri dan kanan, seluruh permukaan tetek Thalha diminyaki, dan kemudian aku melihat Pak Ali melakukan urutan-urutan yang menurutku sepertinya urutan erotik.
Aku juga melihat tangan Pak Ali meminyaki puting susu Thalha, tangannya yang hitam dan telapak tangannya yang besar dan kasar itu meminyaki puting susu Thalha. Dan aku terkejut ketika aku melihat jari-jari Pak Ali yang besar itu juga memutar-mutar puting susu Thalha yang besar itu. Anehnya aku melihat Thalha diam saja, tidak memberikan perlawanan. Sungguh aku hairan, dengan aku saja suaminya dia amat tidak suka puting susunya kupegang-pegang tapi dengan Pak Ali dia diam saja.

Puting susu Thalha yang sememangnya sudah besar itu semakin besar dan keras terlihat semakin kencang dan menegak kerana terus dipicit, dielus dan ditekan-tekan oleh jari-jari Pak Ali, yang kiri dan kanan.

Aku semakin mengamati bahwa urutan Pak Ali tidak lagi mengurut, tapi justru meramas-ramas kedua tetek Thalha. Aku bertanya-tanya dalam hati, kenapa dia tidak mengurut bagian tubuhnya yang lain tapi justru hanya kedua tetek Thalha saja. Kuperhatikan kedua puting susu Thalha semakin besar dan mengacung keras. Sungguh kontras menyaksikan kedua telapak tangan Pak Ali yang hitam dan besar dengan tetek Thalha yang putih yang diramas-ramas oleh tangan yang kasar.

Aku semakin hairan, apakah ini rawatan untuk menghilangkan dingin seks Thalha? Dan yang lebih aneh, buah dada Thalha nampak makin keras dan mengencang seiring dengan puting susunya yang juga mengencang. Apalagi Thalha diam saja diperlakukan demikian, kerana benar-benar kusaksikan Pak Ali bukan mengurut, tapi meramas-ramas buah dada Thalha sesukanya, dan itu dilakukan cukup lama.

Segala macam bentuk pertanyaan timbul dalam hatiku, bayangkan buah dada Thalha diramas-ramas oleh Pak Ali di hadapan mata kepalaku sendiri, dan aku mendiamkannya. Dan yang lebih aneh lagi sarung yang masih melilit di pinggang Thalha diturunkan ke bawah oleh Pak Ali, tentu saja paha Thalha yang putih panjang dan mulus langsung terpampang.

Lalu dia berkata kepada isteriku, "Cik Thalha, tolong buka celana dalamnya, Pak Ali mau periksa sebentar..!"

Anehnya entah kerana kena pukau, Thalha menurut membuka celana dalamnya tanpa membantah sedikit pun. Tentu saja aku terkejut dan lidahku kelu. Jantungku berdegup dengan kencang. Pak Ali menyuruh membuka celana dalam Thalha. Dan yang membuat jantungku lebih berdegup dengan kencang, kenapa Thalha tidak keberatan atas permintaan Pak Ali?

Setelah Thalha melepaskan celana dalamnya, aku melihat sendiri mata Pak Ali terbelalak melihat kemaluan Thalha, yang bersih tanpa rambut sedikit pun. (Memang bulu kemaluan Thalha selalu dicukur, agar nampak bersih) Dan memang aku mengakui kemaluan Thalha termasuk indah seperti kemaluan anak gadis umur 14 tahun, dengan kedua bibir kemaluan yang tertutup rapat.
Jantungku semakin berdegup kencang ketika Pak Ali menyuruh Thalha berbaring dan sekaligus melebarkan pahanya ke kiri dan ke kanan yang secara otomatik kemaluan Thalha terpampang tanpa ada yang menutupi sama sekali.

Lalu Pak Ali berkata, "Cik Thalha, Pak Ali mau periksa lebih dalam.., cik Thalha tenang-tenang saja, yang penting penyakit cik boleh sembuh sembuh." Lalu Thalha pun mengangguk tanda setuju.
Dan tanpa kusadari, batang kemaluanku sudah tegang luar biasa, apalagi ketika jari-jari Pak Ali yang berbuku-buku besar itu mulai membelai-belai kemaluan Thalha. Dia mulai membelai bibir kemaluan Thalha seraya melumuri dengan minyak. Jari-jari Pak Ali, yang besar dan berlumuran minyak itu mulai mempermainkan kemaluan Thalha. Aku melihat jari telunjuk Pak Ali menyentuh kelentit Thalha. Jari tengahnya mulai masuk perlahan-lahan meneroka ke dalam kemaluan Thalha.
Aku hampir tidak percaya pada pendengaranku, aku mendengar Thalha mengerang kecil dan mendesah-desah tertahan, seperti orang yang sedang menahan suatu kenikmatan orgasme (sebenarnya aku senang mengetahui bahwa sebenarnya Thalha tidak frigid). Aku melihat mata Thalha begitu redup, seperti orang keenakan. Pak Ali tidak hentinya terus mulai memundur-majukan jari tengahnya ke dalam liang kemaluan Thalha. Jari tengah Pak Ali yang besar dan hitam itu masuk dengan lancarnya ke dalam kemaluan Thalha. Nampaknya minyak pelincir di dalam kemalaun Thalha sudah keluar.

Aku terkejut paha Thalha semakin dibuka lebar, dan tanpa disadarinya Thalha mulai menggoyangkan punggungnya. "Oh.. ah.. oh.., eh.., eh.., eh..!" desahnya.
Thalha kemudian mengangkat punggungnya tinggi-tinggi, sudah dipastikan Thalha terangsang luar biasa oleh permaianan Pak Ali.

Aku melihat Thalha benar-benar menikmati apa yang dilakukan oleh Pak Ali pada dirinya. Jari-jari Pak Ali yang berada di dalam liang kemaluan Thalha membuat tubuh Thalha yang telanjang bulat itu mengelinjang-gelinjang tidak keruan sambil tangannya mencengkam tilam serta mengangkat punggungnya dan pantatnya, kemudian menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan. Jari tengah Pak Ali yang besar dan kasar itu terbenam dalam sekali di dalam lubang kemaluan Thalha. Aku juga melihat ibu jarinya mengosok-gosok klitorisThalha. Sungguh pandai sekali Pak Ali membangkitkan nafsu Thalha.

Aku melihat mata Thalha menandakan keenakan, dimana biji matanya yang hitam tidak nampak, sementara jari-jari Pak Ali terus bergerak mundur maju di antara bibir vagina Thalha, dan makin lama jari-jari Pak Ali makin jauh terbenam di dalam vagina Thalha. Lalu yang membuat jantungku berdegup kencang, Pak Ali memutar-mutar jarinya yang sedang berada di dalam kemaluan Thalha, diputar ke kiri dan ke kanan, sungguh pandai dia menjolok-jolok kemaluan Thalha.
Klitoris Thalha juga menjadi perhatian penuh Pak Ali, ibu jari Pak Ali yang besar dan kasar permukaanya itu terus mengosok-gosok klitoris Thalha. Semakin lama nampak klitoris Thalha membesar dan menonjol kepermukaan, sungguh pemandangan yang luar biasa. Digosok dan dimainkan sedemikian rupa, klitoris Thalha semakin besar sebesar biji kacang tanah, dan Thalha pun mengerang tidak keruan menahan kenikmatan yang didapat dari Pak Ali.

Aku pun semakin tercengang, kerana Pak Ali mulai memasukkan tambahan jarinya, yaitu jari telunjuknya yang berbuku-buku besar itu ke dalam kemaluan Thalha. Bersama jari tengah dan telunjuknya yang besar itu, Pak Ali semakin menggila meneroka kemaluan Thalha serta sering memutar-mutar jarinya di dalam.

Tidak dapat dibayangkan selama ini, aku saja suaminya tidak pernah melakukan apa yang seperti Pak Ali lakukan. Jangankan memasukkan jari ke dalam kemaluannya, menggosoknya dari luar pun Thalha tidak mau, alasan Thalha tidak bersih. Susah dibayangkan, bagaimana rasa nikmatnya Pak Ali ketika jarinya masuk ke dalam kemalauan Thalha yang kecil dan tertutup rapat itu dijolok oleh kedua jari Pak Ali yang besar-besar itu.

Apalagi tangan kiri Pak Ali yang bebas mulai menggapai tetekThalha dan mulai meramas-ramasnya bergantian yang kiri dan kanan serta memelintir-melintir puting susu Thalha bergantian. Aku melihat puting susu Thalha yang sebesar ujung kelingking itu membesar dan mengacung ke atas kerana diperlakukan demikian.

"Ahhh..!" suara desahan Thalha makin kuat terdengar (sebenarnya Thalha paling malu mengerang-ngerang keenakan seperti ini, biasanya dia tahan, tidak mengeluarkan suara) tapi dengan Pak Ali dia benar-benar tidak tahan. Sungguh aku hairan, dengan Pak Ali lain jadinya. Kalau aku suaminya yang melakukan dia tidak mau, jangankan memasukkan jari ke dalam lubang kemaluannya, meramas-ramas buah dadanya saja Thalha tidak mau, ngilu katanya. Dengan Pak Ali dia merelakan kedua teteknya diramas-ramas, dan membiarkan Pak Ali mempermainkan puting susunya (yang menurut dia sangat geli dan sensitif). Dan yang membuatku tidak habis berpikir dan membuat birahiku semakin naik, kenapa dia membiarkan jari-jari Pak Ali masuk ke dalam lubang kemaluannya, sedangkan aku ditolaknya dengan tegas jika ingin mempermainkan kemaluannya.

Tapi aku tidak dapat berpikir lama lagi, kerana aku sedang menyaksikan pemandangan yang sangat luar biasa, dimana Thalha sedang menikmati perbuatan Pak Ali. Jari-jari Pak Ali semakin dalam terbenam dan semakin cepat maju mundurnya.

Dan, tiba-tiba aku melihat kedua paha Thalha menjepit kencang tangan Pak Ali yang berada di selangkangan Thalha. Kedua tangan Thalha menarik tangan Pak Ali sambil berusaha menekan punggungnya ke depan serta menarik tangan Pak Ali dan berusaha menekan jari-jari Pak Ali untuk lebih jauh masuk ke dalam vaginanya.

Thalha merintih histeria tidak tertahan, "Ahh.., ahh.., ahh.., ahhh..!"

Rupanya Thalha telah mencapai orgasme dengan sempurnanya. Pak Ali dapat merasakan cairan Thalha telah keluar dan meleleh ke bibir kemaluannya. Dan aku juga melihat wajah Pak Ali sudah memburu penuh nafsu. Dengan perlahan dia membuka celana hitam labuhnya, kemudian membuka celana dalamnya, lalu tersembul lah batang kemaluan Pak Ali yang sudah membesar dan menegang itu, yang dikelilingi oleh urat-urat yang besar. Aku pun terpana kaku memandang batang kemaluan Pak Ali yang besar dan panjang itu. Jantungku berdegup dengan kencangnya.

Lalu Pak Ali menoleh kepadaku, "Encik, encik rela tidak sebagai suami, demi untuk kesembuhan isteri encik ini, isteri encik mesti saya suntik dengan ini," sambil menunjukkan batang kemaluannya yang besar itu, "Saya harus menyetubuhi isteri encik sekarang. Biar penyakitnya hilang."
Aku pun terdiam, pikiranku berkecamuk, tiba-tiba seperti suara halilintar yang memecahkan telingaku, Thalhaberkata, "Biar saja Pak Ali, saya mau, yang penting.. saya boleh sembuh."
Jantungku berdegup kencang, tapi tubuhku menjadi lemas mendengar perkataan Thalha tadi. Thalha rela disetubuhi oleh orang yang baru dikenal, bahkan dilakukan di depan suaminya, seingatku Dila adalah isteriku yang paling setia, alim dan tidak pernah macam-macam, tapi kenapa sekarang boleh jadi begini, apakah kena pukau, atau apa?

Aku tidak dapat berpikir lebih lama lagi, dengan perlahan dan pasti Pak Ali mengarahkan topi keledarya ke dalam kemaluan Thalha. Thalha pun juga cukup terkejut melihat topi keledar Pak Ali lebih besar dari batang kemaluannya. Dan sialnya, sepertinya Thalha tidak sabar menunggu batang kemaluan Pak Ali menghampiri kemaluannya. Tanpa rasa malu sedikit pun, Thalha menarik punggung Pak Ali dengan kedua belah tangannya untuk cepat merapat ke kelangkangnya.

Tapi ternyata Pak Ali sedar diameter kemaluannya yang hampir 3 cm itu memang terlalu besar untuk kemaluan Thalha yang kecil dan comel itu, (sebenarnya ada perasaan rendah diri dalam diriku, kerana batang kemaluanku jika dibandingkan dengan Pak Ali jauh lebih kecil). Perlahan Pak Ali mengosok-gosok topi keledarnya di permukaan kemaluan Thalha yang kecil dan mungil itu. Aku pun penasaran melihat pemandangan yang menakjubkan itu, apakah boleh masuk seluruh batang kemaluan Pak Ali ke dalam vagina Thalha..?

Aku melihat wajah ketidaksabaran Thalha kerana Pak Ali belum memasukkan seluruh batang kemaluannya ke dalam liang vaginanya. Nampak wajah protes dari Thalha dan Pak Ali mengerti. Perlahan dan pasti topi jerman Pak Ali sudah mulai terbenam masuk ke dalam kemaluan Thalha. Mata Thalha mendelik-delik ke belakang, merasakan kenikmatan yang luar biasa, dan membuat perasaan iri menjalar di tubuhku. Thalha memeluk tubuh Pak Ali dengan kencangnya, seolah tidak mau melepas batang kemaluan yang sudah masuk ke dalam vaginanya.

Thalha semakin membuka kedua pahanya lebar-lebar, ke kiri dan ke kanan, mempersilakan batang kemaluan Pak Ali masuk tanpa hambatan. Kini seluruh batang kemaluan Pak Ali sudah terbenam di dalam liang vagina Thalha. Pak Ali tidak langsung memainkan batang kemaluannya, dibiarkannya sesaat batang kemaluan itu terbenam, ini membuat Thalha makin gelisah. Dan sungguh di luar dugaan, Pak Ali berusaha mencium bibir Thalha yang mekar itu, aku menyaksikan bagaimana bibir Pak Ali yang hitam itu melumat bibir Thalha yang tebal dan mengghairah itu. Aku tahu sebenarnya Thalha tidak mau dicium oleh sembarang pria, tapi kerana desakan berahi yang meluap-luap, mau juga Thalha membalas ciuman Pak Ali dengan ganasnya. Kulihat mereka berpagutan, namun Thalha sudah tidak tahan.

Dia berkata, "Cepat Pak Ali, mulai..!"

Perlahan dan pasti Pak Ali mulai memaju-mundurkan batang kemaluannya di dalam vagina Thalha. Aku melihat disaat batang kemaluan Pak Ali menghujam ke dalam, bibir kemaluan Thalha pun ikut melesak ke dalam, dan disaat batang kemaluan tersebut ditarik keluar, bibir vagina Thalha pun ikut melesak keluar.

Hal ini dikeranakan batang kemaluan Pak Ali yang terlalu besar untuk ukuran vagina Thalha yang kecil dan mungil itu. Aku melihat wajah Thalha merah padam, menahan kenikmatan yang luar biasa. Matanya terpejam-pejam saat menerima tikaman batang kemaluan Pak Ali serta bibirnya mendesis-desis. Ternyata Thalha sangat menikmati persetubuhannya dengan Pak Ali, dikeranakan memiliki batang kemaluan yang besar dan panjang. Sementara aku melihat wajah Pak Ali, matanya pejam celik, menikmati liang vagina Thalha yang kecil dan mungil itu.

Tanpa ada rasa malu, di sela-sela rengekan nikmat yang keluar dari bibir Thalha, aku mendengar dia berkata, "Ahh... Ayuh.. Pak Ali, cepat lagi..!"

Rupanya Thalha sudah ingin mencapai orgasme. Thalha semakin cepat menggoyangkan punggungnya ke kiri dan ke kanan, dan mengangkat punggungnya tinggi-tinggi. Dan benar saja, Pak Ali semakin mempercepat permainannya, topi jerman dan batang kemaluan Pak Ali yang dikelilingi oleh urat-urat yang besar sekarang begitu mudahnya masuk keluar dari dalam liang kemaluan Thalha yang sempit itu.

Sukar dibayangkan, batang kemaluan Pak Ali yang demikin besar itu dapat menerobos masuk dan keluar dengan mudahnya, ini dikeranakan pastiThalha sudah mengeluarkan cairan pelincirnya begitu banyak. Tapi kerana teramat besarnya batang kemaluan Pak Ali, bibir kemaluan Thalha tetap melesak ke dalam atau ke luar ketika dibenam maupun ketika dicabut.

Ini merupakan pemandangan yang sangat menakjubkan, cepatnya batang kemaluan Pak Ali masuk dan keluar, diikuti dengan cepatnya bibir vaginaThalha melesak ke dalam dan keluar. Aku pun sudah tidak tahan untuk melakukan lancapan melihat Thalha disetubuhi oleh laki-laki yang belum dikenal dengan batang kemaluan yang luar biasa besarnya.

Pak Ali ternyata tidak mau rugi sama sekali, apabila diperbolehkan menyetubuhi isteri orang dalam rangka penyembuhan, mesti dimanfaatkan sebaik mungkin, tidak boleh ada bahagian tubuh yang ditinggalkan. Memang sungguh berlebihan, sempatnya Pak Ali melahap kedua buah dada Thalha yang terguncang-guncang terkena hentakan batang kemaluannya.

Dengan rakus disedut-sedutnya puting susu Thalha dengan kuatnya yang kiri dan kanan bergantian, sungguh Pak Ali menikmati puting susu Thalha yang sebesar ujung kelingking itu (seperti anak kecil isap puting). Pasti nikmat kerana terasa puting itu di mulut yang menghisapnya.

Kesan dari ini semua Thalha tidak tahan untuk berteriak-teriak menikmati kenikmatan yang amat sangat yang belum pernah dirasakan. Dan tiba-tiba aku melihat tubuh Thalha mengejang kaku dan bergetar seperti dialiri elektri ribuan volt. Tangan dan kakinya memeluk Pak Ali dengan kuat seperti melekat.

"Ahh.., ahh... Ahh..!" tangannya mencakar belakang Pak Ali hingga berdarah dan bibirnya mengigit lengan Pak Ali hingga berdarah pula. Punggung Thalha diangkat menempel di tubuh Pak Ali, seolah tidak dapat lepas, Thalha mengalami orgasme yang luar biasa hebatnya, yang seumur hidup belum pernah dirasakannya.

Sementara Pak Ali pun sudah tidak tahan, dia mempercepat kocokannya. Dan akhirnya ketika ingin memuntahkan laharnya, dia cepat mencabut batang kemaluannya yang besar dan berurat itu dan disodorkan segera ke wajah Thalha. Sperma putih melumuri wajah Thalha dan sebagian dari sperma itu harus ditelan oleh Thalha, sebagai salah satu syarat penyembuhan.

Setelah selesai, Pak Ali menyuruh Thalha mandi air bunga yang disediakannya dan memberikan beberapa ramuan kepadaku untuk diminum Thalha. Ketika hendak pulang, kutanyakan berapa bayaran untuk rawatan yang baru saja dilakukannya. Dikatakannya percuma, kerana sudah dibayar dengan tubuh Thalha.

Dia mengatakan aku merupakan lelaki yang beruntung mempunyai isteri yang lubang kemaluannya kecil dan rapat meskipun sudah beranak 2. Setelah kejadian di tempat Pak Ali, Thalha sudah mulai beransur-ansur sembuh dari keadaan dingin seksnya, dan terus menjalankan rawatan serta minum ramuan yang dibuat oleh Pak Ali.
Share:

Tertipu

Belum sempat aku meletakkan beg bimbit yang aku bawa di atas meja dalam bilikku,
aku diserbu oleh Hashim, kawanku. Dengan nafas yang tercungap-cungap dia
memberitahuku ada restorans ikan bakar yang baru dibuka. Makanannya enak dan
harganya murah, harga promosi katanya. Katanya aku akan rugi dan kempunan jika
tidak mencubanya. Beria-ia Hashim berkempen, akhirnya aku bersetuju untuk
mencubanya.

Tengah hari itu aku menelefon isteriku di pejabatnya. Aku ingin mengajaknya makan
tengah hari di restoran yang diberitahu oleh Hashim. Kata Hashim restoran baru
itu menawarkan pelbagai jenis ikan bakar, ayam bakar dan berjenis masakan bakar
yang lain. Aku memang arif kegemaran Fatin isteriku adalah ikan bakar yang
dicecah dengan air asam.

“Hello, Syarikat Purnama. Boleh saya bantu encik?” Suara lunak di sebelah sana
menjawab panggilan telefonku.

“Boleh saya bercakap dengan Puan Fatin Adiba,” balasku menerangkan maksudku
membuat panggilan.

“Maaf encik, boleh saya tahu siapa encik?” Masih kedengaran suara lunak di
sebelah sana.

“Saya Anwar, suami Puan Fatin,” balasku memenuhi permintan staf Syarikat Purnama.

“Puan Fatin EL hari ni. Dia tak beritahu encik ke?”

Fatin ambil cuti kecemasan, aku tertanya-tanya. Waktu kami berpisah pagi tadi dia
tidak menyebut apa-apa. Aku lihat dia sedang bersiap-siap untuk kerja, keadaannya
sihat-sihat saja. Seperti biasa aku ke pejabat lebih dulu kerana kerjaku bermula
jam 8.00 pagi sementara pejabat Fatin bermula jam 9.00 pagi. Kami masing-masing
memandu sendiri, Fatin dengan MyVi SEnya sementara aku dengan Hyundai Matrixku.

“Encik, encik masih di sana?” Suara di telefon menyedarkan lamunanku.

“Ya, ya,” jawabku tergagap-gagap.

“Puan Fatin tak beritahu encik dia ambil EL? Katanya dia tak sihat,” staf yang
terlebih ramah itu masih bertanya.

“Mungkin dia terlupa. Saya sedang berkursus, tinggal di hotel,” jawabku menutup
malu sendiri.

“Oh! begitu. Assalamualaikum En. Anwar,” staf di hujung sana menamatkan
perbualannya.

“Waalaikumussalam. Terima kasih,” jawabku menamatkan perbualanku.

Jiwaku berperang, pelbagai tanda tanya dalam benakku. Benarkah Fatin sakit. Kalau
sakit, terukkah sakitnya itu. Sudahkah dia ke klinik bagi mendapat rawatan.
Mampukah dia memandu sendiri ke klinik. Kenapa dia tidak menelefonku. Macam-macam
soalan berlegar dalam kotak fikiranku.

Tengah hari itu aku mengambil keputusan untuk pulang ke rumah melihat keadaan
Fatin, isteri kesayanganku. Aku terkenang kembali hubungan mesra antara aku
dengan isteriku. Aku memang cinta kepada isteriku yang aku kahwini dua tahun
lalu. Kami merancang untuk tidak mempunyai anak dalam masa terdekat. Justeru itu
dalam usia perkahwinan kami yang memasuki dua tahun belum ada tanda-tanda
kehadirian ahli keluarga baru.

Umurku 29 tahun sementara Fatin isteriku berumur 27 tahun. Kulitnya putih,
matanya coklat bulat cantik sekali. Kami berkenalan di kampus, bercinta dan
kemudian berkahwin. Kami bahagia dan rumahtangga kami aman damai.
Segala-galanya berjalan lancar. Lahir dan batin kami tak ada yang kurang.
Kehidupan seks kami normal macam orang lain juga cuma isteriku kelihatan agak
konservatif berbeza denganku yang agak agresif. Aku suka foreplay yang
berpanjangan sebelum penetrasi tapi isteriku sungguhpun nafsunya tinggi dan buas
tapi ada sedikit kekurangan bagiku.

Aku suka membelai dan melakukan oral seks tapi isteriku tak suka. Baginya oral
seks menjijikkan dan geli. Katanya dia agak geli menghisap kemaluanku kerana di
sana tempat keluarnya kencing. Sementara aku sebaliknya, aku suka mejilat
kemaluan dan kelentitnya yang memerah itu. Aku suka mendengar suara erangannya
dan badannya yang mengeliat dan menggelupur bila kelentitnya aku jilat.

Bila sekali sekala kami menonton video lucah, isteriku akan memalingkan muka bila
melihat si wanita menjilat dan menghisap zakar lelaki. Katanya dia akan termuntah
bila melihat si gadis membelai dan menjilat zakar yang tidak bersunat. Dia selalu
membayangkan ada sesuatu di bawah kulit kulup. Katanya lagi dia amat tidak
menyukai bila wanita kulit putih menjilat kulup lelaki negro. Zakar negro yang
hitam legam itu tidak menarik, katanya.

Kira-kira setengah jam memandu aku sampai di kediamanku di Bandar Laguna Merbok.
Aku perhatikan kereta MyVi isteriku ada di bawah porch sementar di tepi jalan di
hadapan rumah aku melihat ada sebuah kereta Proton Waja warna silver metalic.
Aku perhati nombor plat dan aku kenal siapa pemilik kereta tersebut. Kereta itu
kepunyaan Mr. Ravi, seorang pesara tentera dan sekarang bekerja sebagai wakil
insurans. Isteriku ada mengambil insurans nyawa dengan Mr. Ravi.

Selepas mengunci keretaku yang aku parking di tepi jalan, aku berjalan memasuki
perkarangan rumahku. Pintu pagar tidak berkunci dan terlihat sepasang kasut
lelaki di muka pintu.

Dengan kunci yang ada padaku aku membuka pintu hadapan yang tertutup rapat. Bila
saja aku masuk aku tidak melihat sesiapa pun di ruang tamu. Aku menapak menaiki
anak tangga untuk ke tingkat atas.

Aku mendekati pintu bilik tidurku yang separuh terbuka. Bila saja aku menghampiri
pintu aku mendengar ada suara orang bercakap-cakap. Aku memperlahan langkahku dan
cuba mengintip apa yang berlaku. Aku kenal salah satu suara itu adalah kepunyaan
Fatin.

Kepalaku seperti dihempap batu besar. Aku melihat Mr. Ravi sedang merangkul
isteriku dari belakang. Waktu itu Fatin sedang duduk di kerusi menghadap cermin
besar di meja solek dalam bilik tidur kami. Mr. Ravi kelihatan mencium dan
mejilat pangkal tengkok isteriku.

“Gelilah Ravi, geli,” suara Fatin kedengaran bila sepasang bibir hitam dan tebal
kepunyaan Mr. Ravi merayap di leher dan kedua cuping telinganya.
Aku mengenali lelaki India berumur lima puluh tahun itu. Lelaki berperut boroi
dan berbadan besar itu kerap datang ke rumahku kerana urusan insurans. Seperti
kebanyakan wakil insurans, Mr. Ravi memang pandai bercakap. Bermacam-macam
strategi dan taktik mereka gunakan untuk menarik pelanggan. Jika banyak pelanggan
yang mereka dapat maka banyaklah komisen yang mereka dapat.

Aku seperti ingin menerkam dan memukul Mr. Ravi yang sedang menggoda isteriku.
Perasaan cemburu dan marah menguasai fikiranku waktu itu. Tapi otak warasku
melarang. Aku memilih untuk menonton saja. Aku ingin melihat sampai di mana
kelakuan isteriku.

Setelah puas menjilati leher isteriku, Mr. Ravi membuka celananya. Dia berdiri di
hadapan isteriku yang telah membalikkan dirinya. Kelihatan butuhnya terjuntai
separuh keras, hitam legam macam belalai gajah.

Aku dan Fatin memberi tumpuan kepada zakar Mr. Ravi. Aku akui butuh lelaki India
itu sungguh besar dan panjang. Terpacak di bawah perutnya yang berbulu dan boroi
kerana terlebih minum arak. Batang pelir berurat itu sungguh hitam dan tentunya
tak bersunat. Kelihatan kulit kulup masih membungkus kepalanya yang kelihatan
membengkak. Hanya bahagian lubang kencing saja yang kelihatan terbuka.
Isteriku tanpa malu-malu, langsung memegang dan meramas batang hitam tersebut.
Sedikit membongkok Fatin merapatkan wajah berserinya mencium kepala kulup Mr.
Ravi. Kemudian lidahnya dijulur keluar dan bahagian hujung yang terbuka itu
dijilatnya penuh nafsu. Aku bagaikan tak percaya apa yang aku lihat.

Fatin yang membenci zakar hitam dan akan termuntah melihat pelir tak bersunat
berkelakuan sebaliknya. Zakar hitam yang berkulup kepunyaan Mr. Ravi malah dicium
dan dijilat penuh ghairah. Bila kami bersama dia sentiasa menolak bila aku meminta dia menjilat kemaluanku. Apakah selama ini Fatin hanya bersandiwara dan berlakon. Kalaulah benar maka lakonannya itu memang menjadi.

Fatin bertindak lebih jauh. Batang pelir lelaki india itu terus dijilat. Mula-
mula kepala yang masih berbungkus itu di jilat dari hujung, batang hingga ke
telur yang hitam berkedut-kedut. Mungkin kurang puas maka dengan tangan lembutya
diloceh kepala hitam tersebut. Kulit kulup di tolak ke belakang hingga kepala
bulat lembab hitam berkilat terbuka. Kulit kulup itu Fatin tolak dan disangkutnya
di bahagian takok kepala. Sekarang kepala yang terdedah itu dicium dan disedut
penuh selera.

Aku terasa pening melihat tindakan agresif Fatin. Fatin yang biasanya malu-malu
bila di katil kelihatan buas dan ganas. Pelir tak bersunat yang dikatakan geli
dan kotor malah di uli dan dihidu penuh nafsu. Melihat kepada matanya yang
bersinar itu menunjukkan ghairahnya berada pada tahap maksima. Hebat sungguh
lakonan kau Fatin.

Batang tua lelaki India itu Fatin jilat, kulum dan dinyonyotnya. Mr. Ravi
mengeliat kesedapan bila bibir mungil warna merah itu melingkari batangnya yang
hitam legam. Aku yang melihat pun membuatkan zakarku mengeras di dalam seluar.
Alangkah bertuahnya kalau batang pelirku yang dihisap dan dikulum seperti itu.
Agaknya Mr. Ravi dah tak tertahan lagi maka dia berdiri dan membuka pakaian
isteriku satu persatu. Fatin membantu tugas wakil insurans itu. Hanya seluar
dalam yang melekat pada tubuh isteriku. Fatin duduk di meja dan jelas menampakkan
seluar dalam warna merah berenda itu. Aku kenal seluar dalam itu kerana aku yang
membeli sebagai hadiah kepada Fatin pada hari valentine bulan lalu.

“You are beutiful, Fatin,” Mr. Ravi memeluk dan mencium pipi isteriku.

“I want suck your cunt and fuck you,” kata Mr. Ravi lagi.

“I am ready. I am yours now,” jawab Fatin mesra dan penuh ghairah.

Mr. Ravi menarik seluar dalam isteriku. Isteriku mengangkat kakinya bagi
memudahkan tindakan lelaki India itu. Dicempungnya isteriku dan dibaringkan di
atas katil. Sepantas kilat Mr. Ravi telah melangkah ke atas katil.
Bila saja kemaluan isteriku yang berbulu pendek dan dijaga rapi itu terdedah maka
Mr. Ravi menerkam dan menyembamkan mukanya. Burit Fatin dijilat penuh nafsu.
Aroma burit Fatin disedutnya. Aku yang duduk beberapa meter dari situ pun seperti
terhidu-hidu bau burit Fatin yang enak itu.

Fatin memejamkan matanya dan mengeliat sakan bila lurah dan kelentitnya
dikerjakan oleh Mr. Ravi. Lurahnya yang merah itu kelihatan berkilat-kilat bila
makin banyak cairan nikmatnya keluar. Mr. Ravi dengan rakusnya menghirup cairan
berlendir yang keluar dari lubang burit Fatin.

Layanan Mr. Ravi yang kelihatan brutal itu amat disukai Fatin. Mungkin Mr. Ravi
jarang dilayan perempuan Melayu yang cantik bergetah maka dia menjadi buas dan
penuh nafsu. Hanya beberapa minit saja kelihatan badan Fatin mengejang dan
kemudian mengendur. Aku pasti Fatin telah mengalami klimaksnya.
Mr. Ravi masih meneruskan tindakannya di kemaluan Fatin yang bertundun tinggi dan
berbibir tebal itu. Bibir dalam warna merah yang dua keping itu digigit-gigit
geram oleh Mr. Ravi. Nafsu Fatin kembali bangkit.

“I dah tak tahan. Fuck me Ravi!”Fatin bersuara sambil menarik-narik rambut Mr.
Ravi yang hanya beberapa helai itu.

Mr. Ravi bangun. Paha isteriku yang terbaring di katil dikuak luas. Kepala
kulupnya ditempelkan ke alur lurah burit Fatin yang telah banjir. Jantungku
berdegup kencang bila kepala bulat besar itu mula menyelam sedikit demi sedikit.
Lubang sempit Fatin akan diterobos batang India yang besar.

“Pelan-pelan Ravi. Penis you besar, penis husband I kecik saja.”

Aku tersentak. Sampai hati Fatin menghina zakarku bila dia mendapat butuh besar
lelaki India yang bertubuh besar dan berbulu macam gorila itu. Apa dayaku, aku
hanya menunggu saja tindakan lelaki India itu selanjutnya.

Sedikit demi sedikit batang hitam itu menyelam. Mr. Ravi mendayung maju mundur.
Mula-mula pelan kemudian makin laju. Menjerit-jerit Fatin menerima batang besar
panjang di dalam lubang buritnya. Bila dia bersamaku tidak pula dia menjerit
seperti itu. Mungkin batang kemaluanku tidak cukup besar hingga dia kurang
merasai nikmatnya.

Beberapa minit acara sorong tarik itu berlangsung dan jeritan-jeritan keluar dari
mulut Fatin maka aku mula melihat badan Mr. Ravi mula bergetar dan menggigil.
Tikaman pelirnya makin laju dan satu tikaman padu terdengar suara erangan keluar
dari mulut Mr. Ravi. Aku rasa lelaki India itu telah melepaskan benih-benihnya
dalam burit Fatin. Serentak itu aku lihat Fatin juga mengalami klimaks untuk
kesekian kalinya.

Makhluk hitam putih itu terdiam beberapa ketika. Mr. Ravi kemudianya menarik
batang butuhnya dari lubang burit isteriku. Batang hitam itu terjuntai lembik di
celah paha dengan cairan lendir berbuih kelihatan berlepotan.

“I love you Fatin. I puas, thanks Fatin,” Mr. Ravi mengucup bibir isteriku dan
mencium pipi isteriku yang mulus. Fatin hanya tersenyum.

“Ravi, I love your big, black and uncut cock. I like its smell,” Fatin bersuara
menggoda.

Kedua makluk itu terbaring lesu di atas tilam empuk di kamar tidurku. Fatin yang
berbadan kecil dan comel sedang memeluk mesra badan Mr. Ravi yang hitam dan
berbulu lebat seperti gorila. Tangan mungilnya sedang membelai batang pelir
lelaki India yang terlentok di pangkal paha.

Kepalaku berpinar, aku betul-betul keliru. Memang aku tak menyangka Fatin
menduakan aku. Dari cara layanan yang teramat mesra pastinya ini bukan pertama
kali Fatin bersama gorila tersebut. Cuma aku saja yang tidak tahu perkara ini
berlaku di belakangku. Benar-benar aku tertipu.

Dengan longlai aku memandu meninggalkan rumahku kembali ke pejabat. Biarlah Fatin
dengan kekasih gelapnya itu berpesta sepuas-puasnya. Aku sendiri bingung, tak
tahu apa yang patut aku lakukan.

Apakah aku gagal berfungsi sebagai suami yang baik? Kalau ya, kenapa Fatin tidak
memberitahuku. Aku keliru, yang pastinya aku ditipu dan aku tertipu....
Share:

Tergoda Dengan Abang Ipar

Ini bukanlah pengalaman pertamaku kerana ketika kejadian itu aku telah pun
bersuami dan beranak dua.Kisahnya bermula pada suatu pagi dalam pukul 7.00 pagi.
Ketika itu cuma aku dan dua orang anakku yang berada di rumah. Suamiku hantar aku
balik kampungsempena cuti sekolah (aku seorang guru) dan diaberkursus di alor
setar. Emak dan ayah pula ikutrombongan ke kelantan selama tiga hari.
Jadi pagi itu aku baru sudah mandi bila aku dengarabang iparku, Erry, sampai kat
muka pintu. Masa tu akuberkemban dengan towel aje. Dia datang untuk bagi kueh
yang kakakku, Ella, buatkan. Mungkin ada banyak lebih agaknya.

“Effa..ini kueh kak ella kau bagi” katanya.

Aku suruh dia masuk. Aku perasan dia pandang aku tak lepas-lepas.masa tu anak-
anak aku tidur lagi. Aku mintak dia tunggu kejap sebab nak pakai baju.sambil dia
nak buka pintu ‘grill‘ rumah tu aku pun masuk kedalam bilik nak pakai baju.
Tiba-tiba masa aku tengahmembongkok nak pakai seluar dalam aku perasan dia dah
berdiri kat belakang aku. Belum sempat aku buat apa-apa aku rasa tangan dia dah
memegang pinggangku. Masa tu aku kaget tak tahu apa nak buat. Nak kata aku tak
suka abang ipar aku ni tak boleh juga sebab dari dulu lagi aku dah perasan yang
dia suka kat aku. Jadi aku sedikit sebanyak banggalah juga sebab masih ada orang
yang bagi perhatian pada aku walaupun dah beranak dua dan badan pun dah mula
gempal.

Masa dia pegang pinggang aku tu sebenar aku suka tapi aku tak boleh tunjuk yang
aku suka. Jadi aku cuma kata “eh! abang buat apa ni…” aku tak dapat meneruskan
kata-kata kerana dia telah mula mencium tengkukku sambil memeluku dari belakang.
Sebenarnya pada masa itu aku sangat ingin di perlakukan begitu kerana suamiku
telah lama tak menyentuhku. Jadi aku cuma membiarkan sahaja apa yang dibuatnya
padaku.sambil bibirnya mencium tengkukku tangannya meramas tetekku yang masih
terbalut dengan towel. Aku dah mula khayal bila dia mula menghisap tetekku.

Nafasku mula ku rasakan sesak. Perlahan-lahan dia merebahkan ku keatas katil
sambil bibirnya kini merayap keatas sambil mencium leherku dan akhirnya hinggap
di bibirku. Aku yang dah mula hanyut masa itu membalas kucupannyadengan ghairah
tanpa teringatkan kedua-dua anakku yang sedang terbaring tidur diruang tamu.
Sambilkami berkucupan itu jarinya telah pun menjelajah pantatku dan sedang
menggentel kelentitku. Aku terus hanyut….kemudian perlahan-lahan bibirnya merayap
turun sambil mengucup seluruh tubuhku. Aku tak tahu berapa lama aku khayal sambil
memejamkan mata kerana bila aku buka mataku seketika aku dapati abang iparku
telah pun menanggalkan baju dan seluarnya. Bibirnya semakin turun melepasi
pusatku dan aku merasakan nikmat yang amat sangat. Pantatku telah banjir.
Kemudian aku rasakan lidahnya menjilat kelentitku dan badanku mengelupur menahan
geli danmerasakan nikmat yang tak pernah aku rasa dari suamiku sebelum ini. Aku
terus memegang dan menarik kepalanya sambil kakiku mengepitnya.aku klimaks …..
abang iparku kemudian mula merangkak naik dan mula memasukkan senjatanya kedalam
pantatku dan terus mendayung.

Aku tak tahu berapa lama dia melepaskan geramnya kepadaku kerana apabila aku nak
klimaks kali kedua aku peluk dia kuat-kuat dan dia pun pancut serentak dengan ku.
Setelah dia puas aku tengok dia macam serba-salah dan macam rasa bersalah. Aku
pun kata “Dah lah tu bang, baliklah cepat nanti orang nampak“. Dia pun segera
pakai baju dan seluar dan dalam tergugup meminta maaf dan kemudian mengucapkan
terima kasih. Tidak ada siapa yang tahu perkara itu sehingga kini dan kami masih
lagi meneruskan aktiviti ini bila ada kesempatan.
Share:

Temuduga Jawatan Setiausaha

Aku tidak akan mengesahkan samada jawatan ini benar-benar wujud tetapi aku amat bertuah kerana aku adalah orang yang dipertanggungjawabkan untuk menemuduga calon- calon yang telah
disenaraipendekkan. Sebelum calon disenaraipendek, mereka melalui beberapa penapisan dan juga diberitahu secara langsung dan tidak langsung mengenai apa tugas mereka sebagai setiausaha peribadi eksekutif. Jadi dengan kata lain, mereka yang telah disenaraipendekkan untuk menjalani temuduga sebenar sudah menyedari tugas sebenar jawatan ini iaitu mengurangkan tekanan majikan.

Lebih baik aku gunakan istilah mengurangkan tekanan daripada memberikan layanan seks kerana ia
bukan satu kerja yang sama seperti pelacuran kerana ia hanya memberi layanan hanya kepada majikannya atau pun rakan-rakan majikannya. Aku mendapatkan seorang penolong (perempuan) kerana ia akan lebih menyenangkan kerja ku dan juga tidak timbul sebarang syak wasangka apabila aku menemuduga calon berseorang diri di lokasi- lokasi yang telah ditetapkan.

Aku melatih Natasha, seorang gadis berbangsa Cina yang fasih berbahasa Melayu. Aku berkenalan dengannya melalui internet dan berfikiran terbuka tetapi dia bukan salah seorang setiausaha
peribadi eksekutif dan memandangkan dia belum bekerja, aku menawarkan dia bekerja bersama ku. Pengarah urusanku menganggap Natasha sebagai setiausaha peribadi eksekutif aku dan dia dibayar gaji RM4,000 sebulan dan juga kemudahan-kemudahan lain termasuk rumah, kereta dan sebagainya tetapi aku tidak pernah menganggap Natasha sebagai setiausaha peribadi eksekutif ku. Natasha sememangnya hebat diranjang kamar dan dengan susuk badan 38c-27-40, sudah cukup sempurna bagi ku.

Dia juga memuji kepandaian aku dalam merangsang klimaksnya kerana dia berkata aku adalah lelaki pertama yang menghasilkan multiple orgasm dari lelaki yang pernah menidurinya sebelum ini termasuk teman lelakinya. Aku tanya berapa ramai lelaki pernah ditidurinya. Dia hanya menjawab tiga. Pertama sekali teman lelaki, yang kedua ialah rakan sekerjanya(yang kemudian menyebabkan dia berhenti kerja kerana lelaki itu terus memaksanya melakukan hubungan seks) dan yang terakhir ialah semasa one night stand, ketika itu dia mabuk di dalam satu kelab malam.

Bila pertama kali aku dan Natasha mengadakan hubungan seks, semasa sedang merancang apa bentuk temuduga yang akan kami lakukan kepada calon-calon, dia berkata sudah hampir enam bulan dia kehausan seks. Dia berkata dia menerima tawaran yang aku berikan kerana dia tahu aku pandai melayani kehendak seorang wanita seperti yang diingininya.

Berbalik kepada temuduga calon. Aku akan menamakan calon dan bukan tempat di mana kami melakukan temuduga tersebut.

Temuduga 1: Dewi Anita Hussein
Dewi Anita Hussein adalah seorang gadis Melayu kacukan Hindi yang berusia 21 tahun. Dia mempunyai susuk badan 36c-26-38. Dia tidak mempunyai pengalaman bekerja tetapi mempunyai kelulusan Diploma Pentadbiran Awam dari sebuah Universiti tempatan. Dewi tiba dengan berpakaian ala setiausaha. Dia memakai skirt pendek ketat yang menampakkan paha putihnya yang licin dan juga kaki yang menarik. Dengan ketinggian 5'7, ketinggian hampir sama dengan Natasha, dia sudah
memenangi pujian awal dari ku tetapi temuduga sebenar belum menentukan semuanya.

Aku mempersilakan Dewi duduk di atas sofa panjang yang sengaja digunakan sementara aku dan Natasha duduk di kerusi bertentangan dengannya. Senyumannya menawan dan rambutnya yang lurus panjang itu diikat ke belakang. "Sebelum memulakan temuduga sebenar, saya akan bertanya beberapa soalan tetapi saya mahu awak menjawabnya dengan jujur kerana ia akan sedikit sebanyak mempunyai kaitan dengan temuduga selepas ini", kata ku sambil mengambil satu lampiran kertas yang mempunyai soalan-soalan yang dibuat oleh aku dan Natasha sebelum ini.

Ia seperti kertas permarkahan calon. Di tepi soalan ada kotak untuk memberikan mata dari 1 hingga 10. Dewi hanya mengangguk tanya faham.

"Awak masih dara ?". "Tidak", jawab Dewi dengan yakin.

"Sudah ada teman lelaki sebelum ini? Jika ada berapa ramai?", tanya ku. "Dua tetapi sekarang tiada", jawab Dewi.

"Awak berkata awak sudah tidak dara lagi, jadi saya anggap awak pernah melakukan hubungan seks?". "Ya", jawabnya pendek.

"Jika tidak keberatan, berapa kali awak melakukannya sehingga sekarang?".
"Saya hanya melakukannya dua kali, sekali bersama bekas dua teman lelaki saya dan sekarang saya sudah hampir lima bulan tidak melakukan hubungan", jawab Dewi dengan agak malu.

"Dalam tempoh lima bulan, pastinya awak kehausan seks, jadi bagaimana awak melepaskan kehausan ini?", tanya ku. "Saya melancap", jawab Dewi.

Dari raut wajahnya, dia semakin malu. Mungkin kerana kehadiran Natasha ketika
ini.

"Boleh saya tahu bagaimana awak melancap?". "Err… saya guna jari dan juga apa saja yang bulat dan panjang seperti batang pelir", jawabnya.

Aku seperti hendak ketawa tetapi aku harus profesional di dalam semua ini.

"Awak tidak menggunakan dildo?", tanya ku. "Kalau ada dijual, memang saya akan membelinya",
jawabnya yakin.

Aku tahu dia sudah tidak malu lagi.

'Awak ada menonton video lucah? Jika ada, adakah awak seorang yang ketagih atau jarang menontonnya?". Saya selalu menontonnya jika ada kelapangan", jawabnya.

"Adakah awak melancap selepas atau semasa menontonnya?".
"Kalau saya menontonnya seorang diri, ya, saya akan melancap semasa dan selepas menontonnya", jawab Dewi dan tiba-tiba aku merasakan nafasnya juga semakin cepat.

"Kalau awak menonton seorang diri? Maksud awak, ada ketikanya awak menonton bersama orang lain? Siapa?".
"Kadang- kadang rakan sekerja saya dan rakan serumah saya", katanya.

"Perempuan?", soal ku kerana jawapannya tidak lengkap.
"Ya, dua orang", jawabnya.

"Awak yakin mereka akan melancap juga selepas menonton video lucah?".
"Saya tidak pasti tetapi saya tahu mereka pun seperti saya".

"Awak tidak pernah melakukan seks dengan mereka?".
"Saya bukan lesbian", jawabnya pantas.

"Tidak semestinya anda harus dianggap lesbian sekiranya melakukan hubungan seks dengan wanita kerana ia bukan sesuatu yang aneh bagi perempuan apabila mereka saling meminati semasa sendiri. Bagi lelaki, ya, ia aneh. Tetapi adakah awak ingin mencuba sekiranya ada peluang?",tanya ku.
"Err… saya lebih suka ia berlaku dengan spontan", jawabnya malu sambil sesekali anak matanya beralih ke arah Natasha.

"Ok, cuba awak gambarkan perhubungan seks yang sempurna bagi awak".
"Saya suka perhubungan seks yang agak kasar tetapi bukan kasar yang menyakitkan, kasar yang merangsangkan, if you know what I mean", katanya.

Aku mengangguk sahaja.

"Saya juga suka lelaki yang tahu memberikan saya klimaks yang luar biasa, bukan hanya dia saja yang klimaks".

Natasha terus memandang ke arah ku apabila dia mendengar kata-kata itu. Senyumannya manis ketika aku menoleh ke arahnya. Dia tahu apa yang diingini oleh Dewi.

"Itu saja?", tanya ku.
Dia mengangguk saja.

"Awak pernah melakukan blowjob?" tanya ku.
"Sekali saja, ketika bersama bekas teman lelaki terakhir saya", jawabnya malu.

"Awak suka melakukannya atau hanya kerana disuruh oleh teman lelaki awak?".
"Saya suka mencuba sesuatu yang baru, dia ada mencadangkan semasa kami menonton video lucah".

"So saya boleh anggap, dia pun ada menjilat kemaluan awak?.
Dia mengangguk saja sambil tergelak kecil.

"Awak suka dijilat?",sambung ku.
"Yup… tetapi dia tidak pandai and his finger-fucked also lousy", jawabnya sambil menarik nafas panjang.

Aku pasti dia sudah terangsang dengan soalan-soalan ku.

"Ok, last question", kata ku sambil meletakkan kertas pemarkahan di atas meja.

Dewi kelihatan kembali bersemangat. Mungkin kerana ia adalah soalan yang terakhir dari ku.

"Dari apa yang saya faham, melalui jawapan yang awak berikan, awak jarang melakukan hubungan seks dan saya juga difahamkan awak suka mencuba sesuatu yang baru. Boleh awak ceritakan, apa kelebihan awak untuk mendapat jawatan ini?".

"Ya… memang saya kurang pengalaman sekiranya dilihat dari jumlah saya melakukan hubungan seks tetapi saya kerap menonton video-video lucah dan saya sedikit sebanyak mempunyai pengetahuan untuk memuaskan nafsu lelaki atau mungkin juga perempuan. Kalau saya tidak berani mencuba, saya sudah pastinya tidak akan menghadiri temuduga ini", jawabnya yakin.

Aku mengangguk saja tetapi soalan itu tidak mempunyai nilai pemarkahan, saja aku nak tanya.

"Baiklah, kita akan memulakan temuduga kedua. Awak sudah bersedia atau awak hendak rileks sekejap?", tanya ku.
"Saya nak ketandas dulu", katanya.

Aku menyuruh Natasha menunjukkan di mana tandas di dalam bilik eksekutif itu. Beberapa minit kemudian, Dewi muncul semula di hadapan ku. Dia duduk sebentar di atas sofa dan dari raut wajahnya, aku tahu dia cemas.

"Baiklah, untuk temuduga kali ini, kami sememangnya tidak akan memaksa sesiapa pun tetapi kami mahu apa yang kami arahkan dipatuhi. Tapi, perlu saya tekankan disini, sekiranya awak mahu berhenti semasa proses temuduga, awak perlu berkata awak hendak berhenti dan sekiranya kami tidak mendengar sebarang permintaan seperti itu dari awak, kami akan meneruskan dengan proses temuduga dan segala yang berlaku selepas itu adalah di atas tanggungjawab anda sendiri kerana kami
sudah memberi peluang untuk awak menamatkan temuduga ini. Kami tidak akan memaksa, kalau awak nak berhenti, kami akan berhenti tetapi kalau tidak keluar dari mulut awak sendiri yang awak hendak berhenti, kami tidak akan berhenti",kata ku panjang lebar.

Dewi mengangguk faham. Aku menyuruh Dewi berdiri dan serentak dengan itu Natasha pun melangkah menghampiri Dewi dan dia berdiri dibelakang Dewi.

"Awak hanya akan lakukan mengikut apa yang diarahkan. Awak hanya akan diberikan kebebasan selepas kami membenarkan. Dewi mengangguk lagi.
"Natasha akan membantu awak, jadi awak hanya perlu berdiri seperti biasa".

Sebaik saja aku menamatkan kata- kata ku, kedua-dua belah tangan Natasha muncul dari belakang
Dewi dan dengan perlahan-lahan membuka butang baju blouse Dewi. Pada mulanya Dewi akan tersentak tetapi aku tahu dia tahu semua ini akan berlaku jua.

"Sebelum kita bermula, adalah lebih baik untuk kita warming up dulu, betul tak?", usik ku.

Natasha menarik blouse Dewi dengan perlahan ke belakang dan terpampanglah kepadatan buah dada Dewi yang tersembunyi di sebalik bra berwarna merah jambu itu. Sungguh menarik sekali pemandangan ini. Dengan saiz 36 dan cup C, pastinya sesuatu yang mengiurkan untuk dilihat.

Natasha mengosok perlahan dari bahu dan turun ke lengan Dewi sebelum dia membuka hook bra Dewi di belakangnya dan selepas ia ditanggalkan, tangan Natasha panjang memegang cup bra Dewi dari terus terjatuh. Kedua tapak tangannya tidak cukup dengan buah dada Dewi ketika itu. Aku rasa Dewi sudah teransang kerana nafasnya juga turun naik dan tiba-tiba aku nampak Natasha mencium leher Dewi dengan perlahan dan sesekali menuruni ciumannya ke bahu atau menaik ke bahagian telinga. Sempat juga dia menjeling ke arah ku.

Aku cuma tidak sabar menunggu bra Dewi dijatuhkan tetapi Natasha masih meramas-ramas buah dada Dewi di sebalik bra tanpa span itu. Dewi mengangkat kepalanya keatas sedikit dan menutup matanya, mulutnya terbuka sedikit. Aku tahu dia semakin teransang.

"Dewi, buka mata dan lihat ke bawah. Lihat apa yang dilakukan oleh tangan Natasha", kata ku.

Dewi akur dan perlahan-lahan dia menurunkan kepala dan membuka matanya. Sempat dia memandang ke arah ku sebelum dia melihat tangan Natasha masih meramas-ramas buah dadanya di sebalik bra itu dan tidak lama kemudian Natasha melontar bra itu ke tepi dengan sebelah tangannya dan sebelah lagi terus tangan terus menerkam dengan agak kasar buah dada yang bogel itu. Dewi
mengeluh dengan reaksi itu.

Tangan Natasha terus mengomol dan meramas manja sambil kadang- kadang jari-jarinya memulas-mulas puting susu Dewi yang sudah menegang. Natasha semakin memeluk erat badan Dewi dari belakang. Ciumannya sudah sampai ke pipi Dewi. Melihat reaksi yang sangat menarik itu, aku terus berdiri dan dengan serta merta juga Dewi mengangkat kepalanya dan memandang ke arah ku tetapi anak matanya terus menoleh ke bahagian batang pelir ku yang aku rasa dapat jelas terlibat ketegangannya di sebalik seluar slack yang aku pakai.

Aku tidak memakai seluar dalam ketika itu dan apabila ia menegang, sememangnya ia jelas
kelihatan terbonjol. Langkah ku berhenti betul- betul di hadapan Dewi. Dia seperti sudah pasrah dengan temuduga ini. Aku mengangkat kedua-dua belah tangan ku dan terus menyentuh tangan Natasha dan secara perlahan-lahan aku mula menyentuh buah dada Dewi yang ranum itu. Kulitnya sangat halus dan bagi seorang perempuan yang berusia 21 tahun, sememangnya ia masih segar lagi.

Apabila Natasha menyedari tangan ku sudah mula menguasai buah dada Dewi, dia pantas menurunkan tangannya ke pinggang Dewi dan membuka zip skirt sebelum menurunkannya ke bawah. Aku sempat melihat ke bawah, Dewi memakai seluar dalam jenis bikini berwarna merah jambu juga. Selepas sah Dewi sudah terangsang kerana nampak sedikit kebasahan pada seluar dalamnya itu, aku terus merapatkan muka ku ke buah dada sebelah kirinya dan terus menghisap dan menggigit manja putingnya.

Dewi seperti sudah tidak mampu lagi berdiri. Tiba-tiba saja tangannya diletakkan di bahu ku. Sedang aku asyik membasahi buah dada Dewi, Natasha sudah melondehkan seluar dalam Dewi tanpa sempat aku memberi arahan. Dan bila Dewi mengangkat kakinya untuk melepaskan seluar dalamnya, aku melepaskan hisapan ku pada buah dadanya untuk melihat pukinya sudah dicukur licin.

"Nice pussy", bisik ku sambil sempat tangan ku mengosok-gosok perlahan pada pukinya yang tembam itu.

Secara tidak sengaja Dewi mengangkangkan kakinya untuk memberikan aku ruang. Aku melepaskan tangan Dewi dari bahu ku dan berundur sedikit dan mengarahkan Natasha untuk berdiri. Aku temukan Dewi dengan Natasha.

"It's now your turn to take off all of her clothes", arah ku.

Natasha hanya merenung manja ke arah ku sebelum mengalih pandangannya ke arah Dewi. Dewi mula membuka butang baju Natasha satu demi satu. Aku pula bergerak ke belakang Dewi dan merapatkan badan ku di belakangnya. Terasa batang pelir ku, di sebalik seluar slack itu menyentuh lurah punggungnya montok itu. Sambil itu sebelah tangan ku meramas-ramas buah dadanya dan sebelah lagi mengosok-gosok pukinya.

Selepas selesai membuka blouse yang dipakai oleh Natasha, aku menolak Dewi lebih rapat dengan Natasha sehinggakan aku boleh menyentuh buah dadanya yang masih berbalut. Dewi memeluk Natasha untuk membuka hook branya dan ketika ini secara spontan Natasha merapatkan mukanya ke
muka Dewi dan terus mengucup bibirnya. Aku tidak dapat melihat sebarang reaksi tetapi yang aku tahu Dewi cuba mengelak tetapi apabila Natasha terus menahan kepalanya, aku rasa dia sudah tidak dapat mengelak lagi dan seketika kemudian, aku mendengar keluhan keenakan. Dan selepas bra Natasha dilepaskan, mereka berdua sudah menggeselkan buah dada masing-masing dengan tangan kiri ku terperangkap di tengah- tengah dua buah dada yang enak dan ranum serta lembut itu.

Tangan kananku semakin kuat menggosok puki Dewi dan jari hantu ku sudah bersedia untuk menusuk masuk ke dalam lubang pukinya yang sudah basah itu. Bila Natasha seperti menguasai situasi, aku memasukkan dengan perlahan-lahan jari hantu ku ke dalam lubang puki Dewi. Dia mengemut kuat pada jari-jari ku tetapi kerana dibantu oleh lubang pukinya yang sudah basah, aku menolak dengan kuat sedalam yang mampu dan Dewi tertonggek-tonggek ke belakang. Semakin meransangkan batang ku kerana ia dihimpit-himpit oleh punggung Dewi dan sesekali juga memasuki celah-celah lurah punggungnya yang padat itu.

Bila lubang puki Dewi seperti sudah serasi, aku pun main peranan keluar masukkan jari hantu ku dengan perlahan-lahan dan kemudian semakin melajukan pergerakan. Dia sudah tidak dapat berdiri lagi dan aku syak tidak lama lagi dia akan klimaks kerana kedua-dua belah tangannya sudah lemah.
Aku menyokong badan Dewi dengan badan ku dan membiarkan Natasha terus mengomol-gomol mulut Dewi dengan tangannya rakus meramas-ramas buah dada Dewi. Seketika kemudian Dewi meraung- raung kesedapan dan badannya juga tergetar- getar. Aku peluk badannya dengan sebelah tangan ku dan rebahkan dia di atas sofa.

Natasha yang menyedari kemuncak yang dialami oleh Dewi membantu aku dengan mengangkat kaki Dewi ke atas sofa tetapi dia terus menyerang puki Dewi yang sudah kelihatan cecair pekat. Dewi meramas-ramas kuat rambut Natasha dan sesekali lututnya mengapit-apit kepala Natasha. Aku membuka baju ku dan melutut untuk terus bermain-main dengan buah dada Dewi. Bila dia sudah hampir kelemasan dalam keenakan, aku suruh Natasha bangun dan membuka skirt dan pantynya.

Puki Natasha tembam sekali dan bercukur licin. Aku angkat Dewi untuk duduk dan aku suruh
Natasha pula yang mengangkangkan kakinya di atas sofa. Kemudian aku tolak kepala Dewi ke arah pukinya. Dengan lemah dan serba- salah dia akur tetapi dia tahu apa yang aku maksudkan. Aku suruh Dewi menonggengkan punggungnya sambil dia menjilat-jilat puki Natasha. Aku ramas-ramas punggung Dewi yang padat itu dan aku belek punggungnya itu dan kini terlihat dengan jelas lubang juburnya yang masih suci kerana kalau yang sudah biasa ditebuk, pastinya agak kehitaman.

Aku bukan nak jilat di situ kerana aku bukan jenis yang pakar jilat tetapi aku hanya hendak
menggosok-gosok kemaluannya dan bila pukinya kembali basah, mungkin juga bercampur dengan peluh, aku terus memasukkan jari hantu ku ke dalam pukinya dan dengan serta-merta dia mengeluh. Berhenti seketika menjilat puki Natasha dan sempat menoleh ke arah ku. Bila dia kembali menjilat puki Natasha, aku terus mencucuk masuk jari ku dengan pantas walaupun kemutannya kuat sekali.

Dia hanya mampu mengeluh kesedapan. Tak tahulah kalau dia dapat menjilat puki Natasha atau
tidak. Kerana terlalu pantas, aku mula keletihan tetapi raungan kesedapan Dewi semakin kuat dan tiba-tiba dia hanya membaringkan kepalanya di atas puki Natasha dan menunggu air maninya keluar sekali lagi. Dia terus tertiarap dengan tangan ku masih lagi mencucuk masuk pukinya dengan ganas sekali. Apa yang aku tahu, dia masih lemah tetapi di kesempatan ini, aku rasa, batang aku sudah cukup lama menegang. Jadi aku terbalikkan dia dan menelentangkan dia di atas sofa. Natasha
terus mengangkangkan kakinya dan memberikan pukinya untuk dihisap oleh Dewi sekali lagi sambil dia memain-mainkan buah dada Dewi.


Aku pun kangkangkan kedua belah kaki Dewi dan terus acukan ketegangan batang ku ke dalam pukinya. Belum pun sempat kepala ku menembusi mulut pukinya, kemutannya seperti menghalang aku berbuat demikian tetapi aku beri isyarat kepada Natasha untuk terus merangsangkan Dewi dengan meramas-ramas buah dadanya dan bila suara Dewi tidak tentu sambil cuba menjilat-jilat puki Natasha, aku terus menyentak masuk dan terus kedengaran raungan yang agak kuat tetapi kemudian dia kembali melakukan jilatannya.

Aku biarkan batang ku serasi dengan kemutannya dan perlahan-lahan aku turun naik dan bila sudah licin sedikit, aku pun mula melajukan pergerakan dan tangan ku mengangkangkan kakinya dengan luas dan kemudian merapatkannya. Sengaja aku mengangkang dan merapatkan kakinya kerana ia akan memberikan kesedapan yang tidak terhingga bila batang pelir kita dihimpit, bukan saja dari kemutannya.

Dewi sudah tidak dapat melakukan jilatan yang sempurna pada puki Natasha. Dia asyik meraung-raung kesedapan. Jadi aku suruh Natasha menarik kaki Dewi, menjadikan dia semakin terangkat ke atas dan sedang aku mencucuk masuk batang pelir ku dengan agak laju, jari kiri ku cuba menembusi lubang juburnya.

Sesekali dia berkata, "Tidak, not there",
tetapi aku fikir ia bukan bantahan. Ia hanyalah bantahan manja, jadi aku basahkan jari ku dengan klimaks pertamanya dan dengan itu mudah untuk aku memasukkan batang jari ku ke dalam lubang juburnya yang mengemut lebih kuat dari pukinya ketika jari yang sama memasukkinya. Mungkin kerana ia tidak pernah dinodai. Dewi sudah tidak dapat menjilat puki Natasha dan dia sememangnya
sudah pasrah dengan semua yang kami lakukan. Aku kemudian menyuruh Natasha bangun dari dada Dewi dan tanpa mengeluarkan batang ku dari pukinya, aku menariknya bangun dan mengangkatnya dengan duduk di atas batang ku.

Dia pun terus memeluk ku untuk bergantung dengan kedua belah kakinya memeluk erat pinggang ku. Aku berdiri seketika dan terus mencucuk masuk batang pelir ku secara berdiri. Agak penat sekali dan tidak begitu menyelerakan. Jadi aku pun membaringkan diri aku di atas sofa dan Dewi sekarang menunggang ku. Natasha kemudian duduk di belakang Dewi dan dia membantu Dewi menunggang ku kerana dia sudah terlalu lemah untuk melakukannya. Kedua belah tangannya berada di dada ku untuk menyokong badannya dengan Natasha mengangkat punggungnya turun naik dan tidak lama kemudian, dia pun klimaks dan dengan serta merta terus merebahkan badannya di dada ku.

Buah dadanya yang kenyal itu sememangnya semakin merangsangkan aku apabila ia mengena dada ku yang sudah bogel tetapi aku belum klimaks dan dengan serta merta, ia terkeluar dari puki Dewi yang sudah basah. Natasha pun mengambil alih dan menunggang ku. Dia sememangnya sudah pakar dan aku tidak menunggu lama untuk memuntahkan air mani ku ke dalam pukinya. Kami sama-sama klimaks dan Natasha pun merebahkan badannya di belakang Dewi. Beban berat kedua- dua wanita ini menyesakkan, jadi aku menyuruh Natasha bangun dan mengangkat Dewi yang aku rasa sudah pengsan kesedapan.

Temuduga baru saja berjalan kurang dari 30 minit tetapi Dewi sudah kalah. Aku rasa Natasha pun belum cukup puas. Kami membiarkan Dewi baring seketika di atas sofa sementara Natasha mengambil aku air dan tuala untuk mengesat peluh ku dan juga mengesat air mani yang ada padanya. Tidak lama kemudian, Dewi pun sedar. Ada dalam 30 minit juga dia terlena.

"Maafkan saya", katanya dan bergegas bangun dari tidurnya.

Aku dan Natasha yang masih bertelanjang ketika itu. Sedang sibuk membuat penilaian dan juga persiapan untuk temuduga yang akan datang.

"Saya tidak pernah mengalami pengalaman seperti ini",tambahnya.

Aku dan Natasha senyum saja, itu baru sikit. Aku menyuruhnya minum sebelum meneruskan temuduga seterusnya. Mulanya dia ingatkan temuduga sudah berakhir tetapi aku masih belum puas lagi dengan prestasinya. Jadi kali ini, tiada lagi Mr. Nice Guy. Selepas itu, aku menyuruh dia duduk di atas sofa yang kuat untuk seorang saja serta meletakkan kedua- dua belah kakinya di tepi sofa.

Natasha pun mengeluarkan dildo plastik yang sederhana besarnya dan ketika itu aku melihat anak mata Dewi seperti agak terkejut melihat dildo yang sebesar itu dan ada satu lagi dildo yang yang kecil tetapi panjang dan tidak berkepala. Dildo itu mempunyai getaran.

"Ia besar sangat", katanya ketika melihat Natasha menghampirinya dan duduk di hadapan pukinya. "Tidaklah, ada lagi yang lebih besar", kata Natasha sambil terus meletakkan batang pelir plastik itu di bibir puki Dewi dan mengosok- gosokkan ia menyebabkan Dewi terus mengeluh kesedapan.

Dia memang cepat terangsang ketika itu. Aku hanya melihat di kerusi tempat aku duduk sambil mengurut-urut batang pelir ku yang sudah kembali tegang. Sedang Natasha mengosok-gosok batang pelir plastik itu di bibir mulut puki Dewi, sebelah lagi tangannya meletakkan dildo kecil vibrate di lubang jubur Dewi dan ketika ia mencecah lubang juburnya, Dewi tersentak seketika dan terus dia membuka mata untuk melihat apa yang berlaku. Dia aku rasa seakan tidak percaya akan ada dua
benda yang memasuki kedua-dua lubangnya. Dia menggeleng-gelengkan kepala tetapi Natasha tidak sama sekali mengendahkannya dan terus dia memvibratekan dildo kecil yang kini sudah masuk sedikit ke dalam lubang jubur Dewi.


Mengeletar kesedapan Dewi selepas itu dan bila Dewi semakin pasrah, Natasha pun menolak masuk dengan perlahan- lahan kepala dildo besar ke dalam lubang puki Dewi. Dia semakin kuat meraung, kesedapan yang tak terhingga aku rasa. Baru saja masuk penuh kepala batang pelir plastik itu ke dalam pukinya, Dewi sudah klimaks. Mungkin vibrator dildo kecil di dalam lubang juburnya keterlaluan dan keenakkan. Aku pun bangkit dan menghampiri sebelah kiri Dewi yang masih menutup matanya untuk menikmati keenakan ini. Aku pegang kepalanya dan serta-merta dia membuka mata dan terus ku suakan batang pelir ku. Dia pada mulanya teragak-agak tetapi tangan ku kuat menarik mukanya ke batang ku.

Rasanya agak berlainan. Sesekali batang pelir ku terkena giginya tetapi dia juga pandai memainkan lidahnya di dalam mulut dan walaupun dia tidak melakukan blowjob, rasa ngilu kepala pelir ku dihisapnya sudah cukup merangsangkan ku. Aku beri isyarat kepada Natasha untuk melajukan
permainanya di bawah sana dan dengan serta- merta juga, Dewi seperti tidak dapat memberi tumpuan dengan tugasnya menghisap batang ku. Jadi aku fikir, sememangnya dia tidak akan dapat melakukannya.

Aku pun pegang kepalanya dengan kedua- dua belah tangan ku dan terus mencucuk masuk batangnya seperti yang aku lakukan kepada pukinya sebelum ini. Dia juga bijak bila meletakkan sebelah tangannya di batang ku agar ia tidak terlalu jauh memasuki mulutnya. Tidak lama selepas itu, aku pun pancut di dalam mulutnya. Dia seperti hendak muntah dan apabila aku menarik keluar batang pelir ku, dia meludah-ludah air mani ku ke tapak tangannya.

"Sapukan ia pada puting awak, ia akan merangsangkan lagi nafsu awak", kata ku.

Dia akur dan selepas disapu, dia seperti mahukan keenakan yang terbaru dan meramas-ramas liar buah dadanya sendiri apatah lagi dengan Natasha masih mencucuk masuk dildo kecil ke dalam lubang juburnya. Dia klimaks sekali lagi. Entah untuk kali ke berapa pun aku tidak tahu. Selepas itu, aku menyuruhnya mandi. Natasha menemaninya mandi. Tak tahulah aku apa yang mereka berdua buat tetapi selepas berkemas dan siap, dia pun balik tetapi sebelum itu aku kata, "Kami akan hubungi
anda nanti". Dia tersenyum manis sebelum meninggalkan bilik itu.
Share:

Suzana Yang Pemurah

Aku pernah kerja pejabat dulu sekejap dengan 3 orang kerani perempuan, ofis tu kecik je. Yang penting kerani2 tu suma memang baik dan pemurah bodi. Masing2 jenis tak kisah pegang2, sentuh2. Minah yang aku paling gemar ialah Suzana pasal dia jenis yang pakai kebaya ketat belah tinggi, menyerlahkan bontot dan dadanya. Konekku sentiasa menegang jika berdekatan dengannya. Pernah sekali aku try geselkan konekku di bontotnya masa kerja kat meja kaunter, aku tengok dia selamba je sampai berlendir2 air mazi aku keluar. Lepas ni aku target nak parking konek aku kat bontot dia dan pancut, dan aku bercadang nak pakai kondom supaya pancut kat bontot dia tak basah. Petang tu pas kerja aku gi beli kondom yang paling nipis supaya dapat rasa kenikmatan bontot Suzana. Esoknya, masa aku datang pejabat, cantik aku nampak Suzana dah sampai dan lepak kat kaunter kira borang, dia pakai baju kebaya pendek kain satin arini. Tak semena2 batang aku mengeras dan aku offer nak tolong dia kira borang. Dia gembira aku nak tolong dia dan aku sengaja berdiri rapat di sebelah dia, dengan keadaan badanku menyenget supaya batang aku kena kat pinggul dia. Aku teruskan mendekatkan batang aku supaya kena badan dia slow2 dan, aku rasakan batang aku mula kena kat sesuatu. Aku jelling dan yes, batang aku dah kena kat peha sebelah kanan. Masa tu orang lain tak sampai lagi. Dia masih selamba, biasa la kan, jenis perempuan yang selamba. Aku tolong dia kira borang sambil borak. Aku memang dah standby pakai kondom dan hari ni hari khamis so aku pakai batik. Tanpa dia sedari, aku keluarkan batang konekku perlahan dari zipku dan aku sorokkan di belakang baju batikku. Masa line clear, perlahan aku selakkan baju batikku lalu aku sorongkan konekku ke pehanya. Bila terkena saja peha kanannya yang berkain satin ketat biru itu, aku dapat rasakan keenakan yang tiada taranya. Konekku rasa berdenyut dan mendidih dan kadangkala bila dia bergerak, kain satinnya menggesel kepala konekku menambah keenakan. Borang masih banyak, tapi aku mesti pancut segera kerana boleh jadi dia akan beredar. Aku pura-pura melawak dengannya dan bila dia gelak, cepat2 aku tekankan sedikit kuat batangku ke pehanya. Keenakan makin dirasa, dan akhirnya aku tak dapat bertahan lagi. Batangku mula menegang ganas, dan akhirnya, creeet! Creeet! maniku memancut di pehanya di dalam kondom la. Aku kepuasan dapat melepaskan maniku. Aku pun simpan konekku semula.

Peluang datang lagi bila satu hari Suzana ajak aku tengok konsert kat KL. Dia kata dia nak suh aku cover belakang dia masa konsert pasal dia selalu kena sentuh oleh pengambil kesempatan. Aku gelak je dan aku cakap boleh je. Ini peluang baik pasal mesti aku dapat tembap bontotnya dengan lebih mudah pasal dia suh aku cover, sedangkan dia tak tau akulah bapak setannya yang nak menembap dia. Petang tu aku ambik dia bawak tengok konsert. Mak aih, dia pakai punya la seksinya, seluar legging hitam ketat hingga menampakkan segitiga buritnya, kasut tumit tinggi dan baju fit hitam ketat menampakkan lurah teteknya. Memang menaikkan nafsuku yang tak keruan. Sampai di konsert, memang betul tekaanku, dia suh aku cover belakang dia, bukan setakat cover, dia siap sandar kat belakang aku rapat. Konekku mengeras di punggungnya yang montok itu. Sungguh sedap kerana aku tak payah cover lagi macam kat pejabat. Dia bila dah tengok konsert memang tak ingat dunia, bontotnya dihentak-hentak ke belakang mengenai konekku. Disebabkan keadaan agak gelap dan kawasan yang crowded dengan manusia, malam plak tu, aku tengok memang boleh sangat nak kuarkan konekku. Perlahan aku keluarkan konekku setakat kepala je la, bila clear aku sondolkan ke punggungnya. Aaaaahhh sungguh sedap rasanya terasa licin konekku disentuh seluar legging ketat Suzana. Aku pun pancut lagi kat bontot Suzana masa kat konsert. Aku perasan memang ramai laki cuba nak rapat pada suzana tapi tak berjaya pasal aku dah tembap dia rapat. Bestnya memang tak terkira dapat merasakan kelembutan punggung Suzana. Kemudian, konsert dah abis, kitaorang pun beredar. Aku ingat dia nak ajak balik, rupanya dia ajak aku teman dia pegi club malam. Aku memang tak biasa lepak club, tapi takpe la, mana tau dia mabuk, bleh juga aku pancut lagi. Tekaanku betul, dia minum sampai mabuk malam tu, sampai aku kena hantar dia balik. On the way, aku tengok dia tak sedarkan diri, cepat2 aku cari port clear pasal nak projek. Dia tidur mengiring, bahagian punggungnya mengadap aku. Can baik ni, cepat2 aku usap batang konekku, lalu aku keluarkan dan perlahan aku kenakan ke bontotnya. Bila terkena sahaja punggung mantapnya, konekku menegang dengan lebih keras. Terasa mendidih dan berdenyut2. Maziku mula keluar membasahi punggungnya. Keenakan semakin terasa, dan akhirnya, creeettt! Maniku keluar lagi membasahi bontotnya. Aaaahhh aku kepuasan. Aku ambil tisu dan lap maniku. Sungguh nikmat kurasakan. Lepas dari itu aku dapat lesen tembap punggungnya, tanpa diketahuinya, aku menjadikan dia tempat memuaskan nafsuku
Share:

Skodeng Adila

Ringgggg! Kedengaran loceng masa terakhir Sekolah Menengah Kampung Sejati. Adila masih lagi menyiapkan tugasan yang diberi oleh Cikgu Zakaria. Pelajar lain semuanya bergegas keluar untuk pulang ke rumah masing-masing. Cikgu Zakaria masih lagi terpacak di depan kelas.

"Adila, awak sudah siapkan semua soalan latihan itu," tanya Cikgu Zakaria sambil berjalan ke meja Adila.
"Belum," jawab Adila pendek.
"Dila, aku balik dulu," terdengar suara Sunita satu- satunya pelajar berketurunan Singh yang belajar di sekolah itu.
"Baiklah, nanti kita jumpa lagi," balas Adila.
"Susahkah soalan latihan ini?" tanya Cikgu Zakaria lagi yang masih tercegat di sisi Adila setelah Sunita pergi.
"Saya kurang faham dengan soalan nombor sembilan dan sepuluh ini, cikgu," balas Adila sambil menunjuk kepada soalan di dalam kertas latihan.

Cikgu Zakaria pun menunjukkan cara untuk menjawab soalan-soalan tersebut. Selesai sahaja, Adila mengucapkan terima kasih lalu meminta izin untuk pulang. Ketika Adila beredar, mata Cikgu Zakaria meleret ke arah ayunan punggung Adila yang montok dan penuh berisi. Adila seorang pelajar di dalam tingkatan dua memang menjadi rebutan ramai pelajar lelaki di sekolah kerana susuk tubuhnya yang menggiurkan dengan payu dara di dada yang pejal berisi. Selain itu, kulitnya putih kecerahan tanpa sebintik jerawat di mukanya menyebabkan daya tarikan yang tidak dapat dilupakan oleh mana-mana lelaki yang terpandang wajahnya.

"Assalamualaikum, Dila. Baru balik dari sekolah? Boleh tak aku temankan ?" terdengar suara mengurat menyapa Adila.
"Jangan ganggu aku," jerit Adila. Adila terus mempercepatkan langkahnya kerana dia kenal akan suara yang menyapanya itu. Suara itu ialah suara Rafi, anak Ketua Kampung yang sepuluh tahun lebih tua daripadanya yang sering mengganggunya.
"Janganlah sombong, Dila. Aku begitu meminati dirimu. Percayalah, cintaku hanya kucurahkan padamu. Aku akan lakukan apa saja, asalkan aku dapat memiliki dirimu dan ..." dengus Rafi dengan nada mengugut. Rafi terus mengekori belakang Adila sambil memerhatikan lenggokan punggung Adila.

Nafsu Rafi semakin tertusuk apabila melihat bayangan coli hitam di sebalik baju kurung putih Adila di samping isi pejal punggungnya. Setiba sahaja ke lorong yang berhampiran dengan Sungai Sejati, Rafi terus memotong langkah Adila dengan basikal cabuk kepunyaan ayahnya.

"Ingat, Adila. Aku akan memiliki dirimu satu masa nanti," jerit Rafi dan terus memecut basikalnya. "Gatal," rungut Adila. Setelah Rafi hilang dari pandangannya, Adila terus menghela nafas panjang dan terus duduk melepaskan letih setelah berjalan cepat ketika diekori oleh jantan gatal itu tadi.

Setelah beberapa minit berehat, Adila terus menyambung langkah untuk balik ke rumah. Setibanya di rumah, Adila terus ke dapur untuk makan tetapi tiada satu apa pun yang ada di atas meja makan.

"Dila..., kau dah balik, nak?" Terdengar suara ibunya yang telah tua menegur dari bilik.
"Ya, mak," jawab Adila dan terus menuju ke bilik ibunya yang telah lama kehilangan suami kerana dihempap oleh batang pokok kelapa dua belas tahun lalu ketika dia berumur baru dua tahun.
"Dila, hari ini kita tiada beras untuk dimakan. Semuanya telah habis. Cubalah engkau pergi ke rumah Pak Cik Mail kau. Pinjamlah secupak beras untuk kita makan hari ini," terang ibunya.
"Tak payahlah mak. Dila pun dah makan di sekolah tadi," Dila cuba menyenangkan hati ibunya.

Sebenarnya, Adila tidak mahu pergi ke rumah Pak Cik Mail kerana dia telah beberapa kali cuba diusik oleh pak cik yang seibu dan berlainan bapa dengan ibunya. Kemudian Adila terus pergi ke ruang tamu untuk membuat kerja rumah yang diberi oleh guru. Selesainya membuat kerja rumah, Adila terus masuk ke bilik untuk menyalin pakaiannya. Adila membuka 'uniform'nya satu persatu. Ketika membuka baju, Adila terpandang akan payu daranya yang membengkak megah di dada dengan ditutup oleh coli hitam yang nipis buatannya yang dihadiahkan oleh Sunita pada hari lahirnya yang lepas.

Perlahan-lahan Adila menanggalkan cangkuk coli yang berada di depan, maka tampaklah dua bongkah isi pejal yang berputing kemerahan yang menjadi idaman setiap lelaki di sekolahnya, termasuklah Rafi dan pak ciknya sendiri. Adila berasa bangga melihat payu daranya yang masih pejal membengkak itu sambil meramas-ramas perlahan dan menguis dengan jemarinya. Setelah puas, Adila pun tunduk sambil melurut kain sekolah yang berwarna biru muda beserta seluar dalamnya.

Setelah itu, ternampaklah mahkota sulit kebanggaan setiap kaum Hawa. Ia merupakan barangan yang amat 'laris' di pasaran. Mahkota sulit Adila baru mula ditumbuhi rumput hitam yang akan menutup tebing lurah sempit yang menyembunyikan pintu keramat yang dibenteng selaput nipis. Adila memainkan jarinya di alur sempit itu. Nafsunya mula membuak apabila dia menyentuh biji kelentit yang tersembunyi di bawah bahagian yang berbentuk seperti gua. Adila menguak kedua belah bibir yang menyembunyikan pintu masuk ke medan nikmat. Biasanya pintu ini akan dibuka oleh tuan yang sah pada malam pertama pengantin dengan kunci 'super power'.

"Dila, tolong basuhkan pakaian kotor yang ada di dalam bakul di dapur tu," suara ibunya mengarah.

Adila yang leka meneliti mahkota sulitnya bingkas bangun lalu mencapai kain batik yang ada di sisi katilnya untuk dijadikan kain kemban.

"Baiklah, mak. Dila pun nak mandi juga ni," jawab Adila. Setelah mengambil bekas yang berisi pakaian kotor, Adila terus ke bilik air yang berada seratus meter dari rumahnya. Rafi yang telah lama menunggu Adila untuk turun mandi di sebalik semak yang berdekatan bilik air itu, rasa lega apabila melihat Adila turun dengan hanya berkemban sambil menjinjing bakul berisi pakaian berjalan menuju ke bilik air. Sebenarnya Rafi telah lama menjalankan 'kegiatan' ini. Sebab itulah dia tahu masa Adila akan mandi atau pun mencuci pakaian. Rafi telah banyak kali melihat mahkota sulit dan payu dara Adila, tetapi belum dapat meramas dan menusuk lurah sempit Adila yang telah lama diidamnya.

"Kali ini aku mesti dapatkannya. Aku mesti, aku mesti....." getus hati kecil Rafi apabila melihat bahagian payu dara Adila terhenjut-henjut yang tidak ditutup dengan coli sambil perlahan-lahan menghampiri lubang pada bilik air untuk mengintai 'mangsanya' dengan jelas. Setelah masuk ke bilik air Adila terus menyingkap plastik untuk menutup bilik air daripada pandangan luar. Rafi yang begitu khusyuk memerhati dari lubang dinding bilik air yang dibuat daripada sisipan lapisan kayu nipis yang jarang.

"Ah, terlupa pula nak bawa kain basahan dan tuala mandi. Tapi tak mengapa. Bukannya ada orang di sini," bisik Adila sendirian sambil meloloskan dirinya daripada kain kembannya. Senjata Rafi meronta-ronta apabila melihat Adila menanggalkan kain batiknya lalu duduk mencangkung. Bahagian sulit Adila yang baru ditumbuhi bulu halus tiba-tiba memancarkan keluar air jernih kekuningan dari lurah sempit yang terletak di celah kelangkang Adila. Rafi menurunkan zip seluarnya untuk melepaskan senjatanya bebas kerana tidak tahan melihat aksi Adila yang menaikkan 'kemarahan' nafsunya.

Setelah itu, Adila membasuh bahagian sulitnya dan terus mencapai bangku rendah di tepi bilik mandi.Adila membasuh pakaian dalam keadaan tanpa dibaluti oleh sehelai benang dengan duduk di atas bangku. Mata liar Rafi terus meratah seluruh tubuh Adila terutama di bahagian yang ada bibir-bibir yang menutup lubang keramat apabila Adila duduk di bangku yang rendah. Selesai sahaja semua pakaian telah dibasuhnya, Adila pun bangun lalu mencebuk air dari tempayan untuk mandi.

Rafi yang menjadi peminat setia Adila meramas-ramas kepala senjata kesayangannya ketika melihat tangan kiri Adila membuka laluan alur sempit untuk memudahkan tangan kirinya menggosok- gosok manja mahkota sulitnya dengan sabun. Tanpa disedari oleh Rafi, senjatanya telah memuntahkan cecair putih pekat ke dinding bilik air yang selalu menjadi mangsa "tembakan" senjatanya.

Tiba- tiba Rafi merasakan dirinya sudah tidak mampu untuk melihat gelagat Adila yang seterusnya, lalu beredar dari situ. Malam itu Rafi amat payah melelapkan mata kerana masih terbayang dengan susuk tubuh Adila pada siangnya. Dia membuka laci yang ada di sebelah katilnya lalu mengeluarkan senaskhah majalah 'Penthouse' yang memaparkan gambar bogel model-model barat dengan aksi yang mengghairahkan.

"Kau akan ku hadiahkan satu mahkota yang selama ini aku idamkan," bisikan perlahan keluar dari mulut Rafi sambil memegang dan meramas senjatanya.
Share:

Kisah Seks Seorang Lesbian

Aku merupakan seorang tomboy dan lesbian. Dahulu aku mempunyai seorang kekasih
lesbian juga tetapi hubungan kami tidak bertahan lama. Bagaimanapun aku masih
teringat-ingat pengalaman pertamaku beraksi seks dengan bekas kekasihku itu yang
bernama Yana. Aku dan dia berkenalan di waktu bangku sekolah semasa aku menuntut
di tingkatan enam. Entah mengapa aku merasakan amat tertarik padanya. Dan dia
juga seperti tertarik padaku. Lalu kami sering keluar bersama dan semakin rapat.
Di mana ada aku di situ juga ada dia.

Aku sering mengambil kesempatan pergi ke rumahnya jika ada peluang. Ternyata dia
tidak kisah atau benci aku pergi ke rumahnya. Bagaimanapun,kami masih tidak
terikat kepada hubungan cinta sesama lesbian. Kami hanya berkawan rapat sahaja
ketika itu. Akibat terlalu kerap aku pergi ke rumahnya,emaknya telah mengambil
aku sebagai anak angkatnya. Aku terkejut juga dengan keadaan tersebut tetapi aku
berasa gembira juga kerana aku pasti dapat mendekati Yana dengan lebih rapat.
Yana selalu mengajakku dan seorang lagi kawanku yang bernama Ayu pergi mengulang
kaji di rumahnya. Pertama kali tidur di rumahnya aku begitu terkejut dengan
penampilan pakaian Yana yang agak menghairahkan dengan hanya berbaju singlet
nipis hingga menampakkan puting teteknya. Yana seperti tidak kisah berpakaian
begitu di hadapan aku walaupun dia tahu aku seorang tomboy. Tetapi apa yang ku
lakukan ialah aku hanya berbual-bual dan mengusik Yana dan Ayu kerana aku tidak
dapat tumpukan perhatian pada pelajran sekiranya Yana ada dekat denganku. Pada
hari berikutnya aku benar-benar datang untuk mengulang kaji pelajaran di rumah
Yana tetapi hampa kerana Ayu yang telah berjanji akan datang denganku tidak dapat
datang. Tetapi aku terpaksa pergi jua kerana Yana telah memaksaku datang ke
rumahnya walaupun Ayu tidak mahu datang. Aku berasa pelik juga apabila Ayu
memberi alasan tidak mahu datang kerana bapanya tidak membenarkan dia mengulang
kaji lagi di rumah Yana sedangkan menurut Yana,Ayu sering datang ke rumahnya
sebelum ini untuk tujuan yang sama.

Malam itu kami hanya membaca buku pelajaran dan mengulangkaji sendirian dan agak
sekejap. Selepas itu,Yana mula mengajakku tidur kerana rasa penat dan mengantuk.
Aku tidur di hadapannya sambil dia memeluk tubuhku dari belakang. Tiba-tiba
kurasakan suatu kehangatan dan debaran yang memuncak semasa dia memlukku. Tetapi
aku terpaksa tahan kerana aku sangat takut jika Yana tahu perasaan aku
terhadapnya. Yana mula meramas-ramas tanganku dan menyentuh dadaku yang bidang.
Dia memeluk tubuhku dengan semakin erat. Aku takut untuk membalasnya tetapi dia
seperti tahu aku menginginkannya dan mula beraksi hebat. Dia menarikku di
hadapannya dan mencium bibirku dengan lembut. Aku terkejut kerana tidak menyangka
dia juga lesbian. Tetapi aku tetap membalas ciumanny itu dengan lebih hebat lagi.
Yana tersenyum dan ketawa kerana berjaya menaklukku.

Dia terus membuang bajuku sehingga aku bogel dan dia juga membuang singletnya
yang nipis dan menghairahkan itu sehingga nampak dua daging pejal di dadanya yang
agak mekar. Aku tidak sabar lagi lantas mencium dada Yana dan meramas buah dada
montoknya itu. Yana merelakannya dan kami bercium dengan rakusnya. Yana lebih
cekap lagi melayaniku dengan pelbagai aksi seolah-olah dia pernah melakukannya
dengan orang lain. Aku sangat teransang dengan aksi-aksi ghairahnya itu dan
bergesel vagina dengannya untuk mencapai lebih kenikmatan seks. Apabila vagina
kami bertemu dan saling menyentuh,aku dan Yana merasakan nikmat yang sangat hebat
dan terus melakukan henjutan seperti lelaki dan perempuan melakukan seks dan
mencapai klimaks. Malam itu kami tidur keletihan selepas beraksi dan bertarung
lama di ranjang. Aku merasa takut dan bercampur baur dengan perasaan gembira yang
amat. Malam itu juga kami mengikat janji sebagai pasangan kekasih lesbian.
Seterusnya,apabila aku datang ke rumah Yana, aku dan dia pasti akan melakukan
seks apabila ada kesempatan. Di waktu yang terdesak pun kami tetap mencuri
peluang melakukannya walaupun ibu bapanya sering hairan kenapa kami berdua selalu
menguncikan diri di dalam bilik. Keadaan kami berlanjutan sehingga tiga tahun
lamanya. Kami berpisah secara rasmi apabila keadaan dan masalah2 yang tidak kami
dugai berlaku. Walaupun aku amat mencintai dan menyayanginya,dia tetap pergi dan
aku terpaksa melepaskannya. Dan itulah pengalaman pertama dan terakhir aku
sebagai seorang lesbian.

Sebenarnya aku tidaklah terlalu ingin menjadikan Yana kekasihku kerana aku takut
dikecewakan tetapi godaan yang datang darinya tidak mampu ku tepis kerana aku
juga mempunyai perasaan sayang yang mendalam terhadapnya. Semoga dia masih
mengingatiku. Aku masih tetap mencintainya.
Share:

Sungai Sebagai Saksi

Peristiwa ini berlaku sekitar di awal tahun 80an di sebuah
perkampungan tepi sungai di Negeri Pahang. Samada kisah ini benar
atau rekaan semata-mata terpulang kepada anda para pembaca untuk
menilainya. Saya sebagai penulis cuma melakarkan kisah yang sering
berlaku dalam masyarakat sejak dahulu hingga ke hari ini.
Rosmah bte Idris (bukan nama sebenar) adalah seorang gadis sunti
berusia 16 tahun dan masih bersekolah dalam tingkatan 4 di sebuah
sekolah menengah di kampungnya. Beliau tinggal bersama dengan ibunya
dan seorang adik lelaki berusia 13 tahun. Manakala abang sulungnya
melanjutkan pelajaran ke luar negeri. Bapanya pula bertugas sebagai
buruh binaan di Singapura yang jarang sekali balik ke kampung.

Ibunya seorang pekerja di sebuah kilang di pekan berhampiran.
Walaupun dengan gaji yang tidak sebanyak mana tapi mampulah untuk
menampung perbelanjaan mereka 3 beranak. Rosmah bersekolah pada
sebelah pagi manakala adiknya sebelah petang. Walaupun Rosmah tinggal
keseorangan pada sebelah petang tapi beliau tidak sunyi. Ramai kawankawan
beliau sering berkunjung ke rumahnya dan sudah tentu mereka
sering bermain di sungai yang pemandanganya cukup indah.

Di antara kawan-kawan Rosmah, Shukorlah yang paling rapat dengan
beliau. Shukor adalah kawan Rosmah sejak kecil lagi. Sama-sama mandi
telanjang sejak masa mereka masih di zaman anak-anak. Tambahan pula
Shukor tinggal di seberang sungai yang secara kebetulan bertentangan
dengan rumah Rosmah. Rakit tempat Rosmah mandi manda dan membasuh
pakaian adalah tempat sampan Shukor mendarat samada untuk pergi ke
sekolah maupun ke pekan yang berhampiran. Walaupun Shukor lebih tua
setahun dari Rosmah tapi perhubungan mereka tetap akrab sejak kecil
lagi.

Oleh itu tidak hairanlah kalau bibit-bibit cinta mulai tumbuh di
antara mereka berdua. Selain sering bertemu malah mereka sering
bermain bersama. Kalau setakat peluk cium tu dah lali buat mereka.
Namun batas perhubungan mereka tetap terjaga kerana Shukor bukanlah
seorang yang suka mengambil kesempatan. Ini mungkin disebabkan mereka
mengenali antara satu sama lain sejak kecil lagi.

Namun syaitan tetap mengoda setiap anak adam di muka bumi ini tak
kira siapa mereka. Maka tidak terkecuali Shukor dan Rosmah. Mereka
akhirnya tewas juga dengan permainan dunia terutama Rosmah yang
kurang kasih sayang dan perhatian dari seorang lelaki.

Pada suatu hari selepas balik dari sekolah Rosmah terus mengikut
Shukor ke seberang. Memang selalu Rosmah ke rumah Syukur dan ibubapa
Syukur melayanya dengan baik kerana keluarga mereka bersahabat sejak
dulu. Tambahan pula Rosmah kesunyian lagilah belas kesihan mereka
tertumpah sepenuhnya.

Selepas makan mereka berdua belajar bersama. Emak Shukor turun ke
sungai untuk mandi dan sembahyang Zuhor. Bapanya pula pergi ke hutan
mencari rotan. Jadi tinggalah mereka berdua. Memang dah biasa
mereka berkeadaan macamtu dan ibu syukur maupun emak Rosmah tidak
pernah menaruk syak wasangka terhadap mereka. Malah syukurlah yang
membantu Rosmah dalam menghadapi peperiksaan SRP tahun lepas.
Sedang mereka asyik membuat kerja sekolah, tiba-tiba pen Rosmah
kehabisan dakwat. Jadi Shukur menyuruh Rosmah mengambil pen di dalam
beg sekolahnya. Semasa Rosmah mahu mengambil pen ia terlihat sebuah
buku berjudul "Mona Gersang" lalu Rosmah bertanya pada Syukur buku
apatu. Syukur terdiam dan tak dapat buat apa-apa bila Rosmah telah
mengeluarkan buku tersebut dengan hiasan seorang perempuan dalam
keadaan separuh bogel.

"Abang Kur baca buku lucah ya." Rosmah cuba meneka dan syukur
tersenyum malu. Namun dalam padatu sempat juga Syukur meminta Rosmah
agar jangan bagi tau sesiapa.

"Kalau Mah nak baca Mah ambilah…" pelawa Syukur dan Rosmah terus
menyimpan kembali buku tersebut ke dalam beg. Mereka terus membuat
kerja sekolah hingga jam 4.30 petang barulah Syukur mengajak Rosmah
pulang ke rumahnya.

Seperti biasa bila sampai di rakit Rosmah, Syukur akan mandi manda
dulu bersama Rosmah. Sementara menunggu Rosmah mengambil kain
basahan Syukur telah terjun dulu ke dalam sungai dan terus berenang
menuju pepohon rendang dipinggir sungai. Di bawah pokok tersebut yang
merimbun agak selesa kerana terlindung dari pandangan baik dari hilir
sungai maupun dari hulu sebelah rakit Rosmah.

Tidak lama kemudian Rosmah tiba di bawah pokok di mana Syukur telah
lama menunggu. Dengan berkemban Rosmah cuba naik ke atas pokok.
Sementara Syukur menghulurkan tangan untuk menarik Rosmah naik. Bila
syukur menarik tangan Rosmah ke atas dengan tidak semena-mena kain
yang Rosmah pakai terlucut akibat tersangkut di hujung kayu di dalam
air.

Apa lagi mata Syukur tidak berkelip-kelip melihat keindahan payudara
Rosmah yang sedang mekar. Di celah pehanya Syukur tidak nampak apaapa
kecuali beberapa helai rambut yang tumbuh halus membuatkan
hatinya kian berdebar. Rosmah juga tergamam seketika dan cuba
melepaskan tangannya dari genggaman Syukur untuk mengambil kainnya
yang telah hanyut. Namun syukur lebih pantas terjun untuk mengambil
kain Rosmah.

Dihulurnya kain tersebut dalam keadaan muka Rosmah kemerahan kerana
menahan malu. Namun hinggapan bibir Syukur di pipinya membuatkan
Rosmah tersenyum dan belum sempat Rosmah memakai kain Syukur telah
memeluknya erat. Rosmah terdiam dan membalas ciuman Syukur.
Nafasnya kian kencang kerana ia tidak pernah mengalami keadaan
seperti itu. Selalunya dia memang biasa berpeluk dan bercium dengan
Shukur tapi bukan dalam keadaan telanjang macam sekarang.
"Mah!…tetek Mah cantik. Kulitnya putih bersih" puji Syukur yang
membuatkan Rosmah tersenyum antara suka dan menahan malu.
Syukur meraba-raba belakang Rosmah yang tidak beralas kain lagi.
Terasa daging pejal Rosmah melekap didadanya dan kian erat dipeluknya
Rosmah. Kedalaman air paras dada membuatkan mereka selesa berdiri
dan berpeluk antara satu sama lain. Tangan Syukur mula liar ke
punggung Rosmah. Di raba dan diramasnya daging pejal dipunggung
Rosmah makin lama makin kuat. Rosmah ada masanya mengeliat kegelian
dan menahan kesedapan.

Peha Rosmah diusap-usap kian ke atas dan akhirnya sampai dipangkal
peha. Tangan Syukur cuba masuk ke celah peha Rosmah namun Ros menolak
tangan Syukur. Syukur tidak memaksa dan tanganya kembali mengusap
peha Rosmah dan kembali ke belakang badan Rosmah. Rosmah diciumnya
kembali dan bibir Rosmah di sedutnya dalam-dalam. Rosmah khayal dan
membalas kembali ciuman Syukur. Tanpa disedarinya tangan Syukur
telah berada di dadanya. Bila Syukur melihat Rosmah tidak cuba
menahan maka tangan tersebut terus mendarat di dada pejal Rosmah. Di
elus-elus lembut daging pejal Rosmah. Kedengaran kocakan air bersama
gerakan tangan Syukur memainkan ke dua-dua tetek Rosmah.
Dalam masa yang sama nafsu syukur kian memuncak. Dia merapatkan
badanya dengan lebih rapat lagi dan memeluk pinggang Rosmah agar
melekap. Dengan itu kekerasan batang Syukur sejak melihat Rosmah
terlucut kain tadi hinggap di peha Rosmah. Rosmah dapat merasakan
kekerasan batang tersebut dan dia dapat mengagak bahawa itu bukan
kayu yang hanyut di sungai.

"Abang!…sudahlah tu. Mah takut nanti ada orang nampak." Rosmah
menahan kemaraan tangan Syukur sekali lagi ke arah kemaluannya.
Tangan Syukur terhenti dan dalam hatinya berkata betul juga. Mana
tau ada di antara rakan-rakan mereka yang datang nanti.
"Ok, abang tak teruskan….tapi boleh tak kalau kita mandi telanjang
macam kita masa kecil-kecil dulu."
"Tak maulah nanti ada orang nampak."
"Ala mana ada orang nampak lagi pun kalau ada orang yang menuju ke
sini cepat-cepat Mah pakai balik kain tu." Akhirnya Rosmah akur dan
meletakan kainnya di dahan pokok begitu juga Syukur. Mereka samasama
berenang mengelilingi pokok tersebut dan sesekali memandang ke
arah rakit agar tiada orang yang mara ke arah mereka berdua.
Sementara Syukur pula asyik memerhatikan

punggung Rosmah yang pejal dan sesekali dapat juga melihat keindahan
payudara dan apam Rosmah yang tembam. Ada masanya sengaja dia
menyelam untuk melihat lebih dekat lagi. Rosmah tahu apa yang Syukur
buat dan inginkan darinya. Tapi perasaan malu-malu kucing masih ada
dijiwanya.

Tiba-tiba Syukur memeluk Rosmah dari belakang dan merapatkan badanya
melekap ke belakang Rosmah. Terasa oleh Rosmah benda keras menyucuk
punggungnya. Manakala tangan Syukur terus melekap di dada Rosmah dan
meramasnya dengan penuh nafsu.

"Abang geramlah tengok tetek Mah." Rosmah cuma ketawa kecil bila
mendengar luahan perasaan Syukur. Dibiarkannya tangan Syukur
bergerak aktif di payudaranya. Sementara tangan kanan Syukur
mengusap perut Rosmah dan akhirnya singgah di celah peha Rosmah.
Kali ini Rosmah tidak membantah dan kian merenggangkan peha bila
dirasanya tangan Syukur cuba masuk dicelahnya. Syukur berjaya
mengusap apam Rosmah yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang masih
sedikit. Dicarinya alur rekahan apam dan bila berjaya diusapnya
celahan tersebut dengan satu jari.

Rosmah kesedapan dan membiarkan apa saja perlakuan Syukur. Lebihlebih
lagi bila jari Syukur menyentuh bijinya yang tersembunyi.
Belum ada jari lelaki lain yang mampu sampai ke situ kecuali jari
jemari Syukur. Sementara itu tangan Syukur menarik tangan Rosmah dan
meletakkannya di batangnya yang telah lama keras. Rosmah memegang
batang balak Syukur. Walaupun terasa takut-takut tapi dalam keadaan
kesedapan Rosmah mengikut saja kehendak Syukur. Digenggamnya erat
balak Syukur membuatkan Syukur kian kesedapan.

"Sedap bila Mah pegang anu abang." Serentak dengan itu Syukur terus
mencium Rosmah.
"Abang!, kita main kejar-kejar nak bang." Cadang Rosmah
"Kita main macam ni lagi sedap."
"Ala abang ni…nanti orang nampak malu kita."
"Ok, kalau abang dapat tangkap Mah, apa hadiah agaknya."
"Abang ni teruklah, main kejar-kejar pun nak hadiah."
"Saja suka-suka - abang dapat pegang Mah pun dah cukup." Mereka
ketawa dan Rosmah terus berenang meninggalkan Syukur. Syukur
mengejarnya dari belakang akhirnya dapat juga dia mencapai kaki
Rosmah dan di tariknya menyebabkan Rosmah terlentang memperlihatkan
kedua-dua tempat sulitnya. Melihatkan Rosmah hampir lemas cepatcepat
Syukur melepaskan kakinya dan Rosmah terus berenang meninggalkan Syukur. Syukur terus mengejar dan disebabkan Syukur
menghalang laluannya menyebabkan Rosmah tiada arah lain lagi kecuali
menuju tempat air cetek.

Akhirnya Syukur berjaya menangkap Rosmah dan menarik Rosmah ke dalam
pelukannya. Bila mereka berdiri air betul-betul paras peha dan
memperlihatkan keseluruhan badan mereka berdua. Rosmah malu dan
cepat-cepat cuba menutup kedua-dua tempat rahsianya disamping cuba
lari dari Syukur. Dalam keadaan meronta-ronta akhirnya mereka berdua
tumbang dan kali ini betul-betul di tempat air bawah paras lutut.
Rosmah tidak dapat berbuat apa-apa kerana Syukur telah menindih
badanya. Dia menyerah kalah dan Syukur dapat melihat segala-gala
miliknya kini.

Mata Syukur sekali lagi mengukur kecantikan tubuh badan Rosmah.
Kalau selama ini dia cuma dapat membayangkan tetapi kini bukan sahaja
dapat melihat kawasan sulit Rosmah di dalam air malah lebih jelas
lagi bila Rosmah terbaring di atas pasir. Diciumnya Rosmah sambil
tangannya meramas payudara Rosmah. Rosmah memejamkan mata dan dia
khayal dan alpa dengan keadaan sekeliling. Rosmah terus menikmati
kenikmatan. Biarlah Syukur yang mengawasi segala-galanya termasuk
dirinya yang bogel tanpa halangan lagi.

Setelah puas bermain di dada tangan Syukur merayap di peha Rosmah.
Kawasan yang amat diminatinya sejak tadi. Dibelai rerambut halus
yang tumbuh meliar dicelah peha tersebut. diusapnya apam Rosmah
dengan lembut sekali. Bila Syukur meramas celah peha Rosmah
melebarkan lagi kawasan tersebut. Syukur amat gembira kerana dapat
melihat rekahan kemerah-merahan yang amat indah pada pandanganya.
Kalau sebelumnya cuma diketahui melalui buku tapi kini di depan
matanya sendiri.

Suasana senyap sunyi yang hanya kedengaran deruan air sungai yang
mengiringi nafas mereka berdua. Namun dalam kesunyian itu terdengar
dikejauhan riuh rendah suara menuju rakit yang tak jauh dari
kedudukan mereka. Apa lagi Rosmah yang sedang menikmati kedamaian
dan ketenangan di masa itu bingkas menolak Syukur ke tepi dan meluru
berenang mencapai kainnya. Syukur yang menyedari turut berbuat
demikian.

"Hoi Ros….kau ada di sana tak." Terdengar suara Leha memanggil
Rosmah. Lapang dada Rosmah dan Syukur kerana mereka sempat memakai
kembali pakaian mereka sebelum Leha dan kawan-kawan yang lain turun
menuju ke arah mereka.

Rosmah dan Syukur tersenyum bila nampak mereka berenang ke arahnya.
"Kami baru lagi turun." Syukur berbohong pada mereka.
Dah jadi kebiasaan mereka akan mandi dan main bersama di bawah
pepohon rendang di tepian sungai. Namun kali ini Syukur dan Rosmah
tidak begitu gembira dengan kehadiran mereka. Keseronokan mereka
berdua terganggu dan ingin saja Syukur menghalau mereka balik. Pada
jam 7.00 malam mereka balik ke rumah masing-masing. Kegembiraan
mereka tidak sama dengan kegembiraan Syukur dan Rosmah. Mereka
memperolehi pengalaman baru dalam kehidupan.

Sepanjang malam Rosmah termenung mengingatkan kejadian di sungai
tadi. Terasa akan keseronokannya. Ingin saja dia mengulangi lagi
peristiwa tadi. Dia pasti Syukur juga sedemikian dan mereka akan
mengulangi lagi kalau ada kesempatan.

Setelah puas termenung Rosmah mencapai beg sekolahnya untuk
mengulangkaji pelajaran pada hari ini. Namun bukan buku pelajaran
yang dicapainya. Sebaliknya dia mencapai buku bertajuk "Mona Gersang"
yang dijumpainya dalam beg sekolah Syukur. Rosmah termenung
memikirkan macamana buku tersebut berada dalam begnya. Adakah dia
tersalah masuk semasa menyimpan buku tersebut.
Rosmah terus membelek dan membaca sedikit dari apa yang tertulis di
dalamnya. Ternyata buku tersebut adalah buku lucah. Sedikit demi
sedikit dibaca dan sedikit demi sedikit pula terasa keseronokannya.
Akhirnya habis satu buku dibaca dan dia terus tertidur selepas
berkhayal seketika dengan apa yang dibaca dan dialaminya di sungai
Share: